Jembatan Barelang, Jejak Visi Habibie yang Mengubah Wajah Batam

  • 19 Sep 2026 16:34 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru: Membentang di antara pulau-pulau di wilayah Batam, Kepulauan Riau, Jembatan Barelang bukan sekadar infrastruktur penghubung. Rangkaian enam jembatan ini menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Batam sekaligus salah satu ikon pariwisata yang hingga kini melekat dengan identitas daerah tersebut.

Nama Barelang merupakan singkatan dari Batam, Rempang, dan Galang, tiga wilayah yang dihubungkan melalui rangkaian jembatan tersebut.

Pembangunan Barelang berawal dari pesatnya perkembangan Pulau Batam pada akhir 1980-an. Saat itu, Batam tumbuh menjadi kawasan industri dan perdagangan yang semakin padat. Perkembangan tersebut mendorong kebutuhan untuk memperluas kawasan pembangunan ke pulau-pulau di sekitarnya, terutama Rempang dan Galang.

Namun, konektivitas antarwilayah ketika itu masih mengandalkan transportasi laut. Perjalanan menggunakan kapal feri menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari jadwal hingga kondisi cuaca. Waktu tempuh yang tidak efisien turut menjadi salah satu kendala dalam membuka akses ekonomi ke kawasan sekitar Batam.

Di tengah kebutuhan tersebut, muncul gagasan pembangunan jaringan jembatan yang menghubungkan pulau-pulau di sekitar Batam.

Gagasan itu dikaitkan dengan B.J. Habibie, yang ketika itu menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi sekaligus Ketua Badan Otorita Batam.

Dalam gagasannya, pembangunan tidak seharusnya hanya terkonsentrasi di Pulau Batam. Perkembangan kawasan perlu diperluas sehingga pulau-pulau di sekitarnya dapat tumbuh secara bersama-sama.

Konsep tersebut kerap dikaitkan dengan "Teori Balon", yakni gambaran bahwa perkembangan suatu kawasan perlu menyebar dan tidak hanya terpusat pada satu titik.

Dari pemikiran itulah lahir proyek pembangunan jaringan jembatan yang kemudian dikenal sebagai Jembatan Barelang.

Pembangunan Jembatan Barelang dimulai pada Juli 1992 dan rampung serta diresmikan pada Januari 1998.

Proyek tersebut menelan biaya sekitar Rp400 miliar. Pelaksanaan konstruksi melibatkan PT Hutama Karya, sementara pekerjaan perencanaan dan konsultasi melibatkan tenaga ahli dari Belanda, PT LAPI ITB, serta para ahli Indonesia.

Proyek ini tidak hanya ditujukan untuk memperlancar mobilitas masyarakat. Sejak awal, pembangunan Barelang juga dirancang sebagai bagian dari strategi pengembangan kawasan Batam menuju Rempang dan Galang.

Rangkaian jembatan tersebut memiliki panjang total sekitar 2 kilometer, sementara jalur yang menghubungkan kawasan Batam hingga Galang membentang sekitar 50 kilometer.

Salah satu hal menarik dari pembangunan Barelang adalah desain keenam jembatan yang dibuat dengan karakter struktur berbeda. Gagasan tersebut tidak semata-mata mengejar fungsi sebagai sarana transportasi. Keenam jembatan juga menjadi semacam laboratorium lapangan untuk memperkenalkan dan mengembangkan teknologi konstruksi jembatan di Indonesia.

Bentuk tiang dan kabel pada beberapa bagian jembatan juga disebut terinspirasi dari tali sampan Melayu, sebuah sentuhan yang menghubungkan teknologi modern dengan budaya masyarakat setempat.

Rangkaian Barelang terdiri atas enam jembatan yang menggunakan nama tokoh-tokoh Kesultanan Riau, yakni:

Jembatan I – Jembatan Tengku Fisabilillah, menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Tonton.

Jembatan II – Jembatan Nara Singa, menghubungkan Pulau Tonton dan Pulau Nipah.

Jembatan III – Jembatan Raja Ali Haji, menghubungkan Pulau Nipah dan Pulau Setokok.

Jembatan IV – Jembatan Sultan Zainal Abidin, menghubungkan Pulau Setokok dan Pulau Rempang.

Jembatan V – Jembatan Tuanku Tambusai, menghubungkan Pulau Rempang dan Pulau Galang.

Jembatan VI – Jembatan Raja Kecik, menghubungkan kawasan di Pulau Galang.

Rangkaian tersebut kemudian menjadi jalur penting bagi konektivitas antarpulau sekaligus membuka akses menuju kawasan yang sebelumnya relatif sulit dijangkau dari pusat perkembangan Batam.

Ketika pertama kali dibangun, orientasi utama Barelang adalah ekonomi dan pengembangan wilayah. Jembatan tersebut diharapkan mampu mendukung pembentukan kawasan industri, permukiman, serta pusat-pusat kegiatan baru di Rempang dan Galang.

Namun, perkembangan Barelang ternyata tidak berhenti pada fungsi transportasi. Kemegahan konstruksi, bentang laut yang luas, serta panorama pulau-pulau di sekitarnya membuat kawasan ini perlahan menjadi tujuan wisata.

Jembatan Barelang kemudian menjadi salah satu lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan ketika berada di Batam. Pemandangan laut dari atas jembatan, terutama ketika matahari mulai terbenam, menjadi daya tarik tersendiri.

Tak heran jika masyarakat kemudian mengenalnya pula dengan sebutan "Jembatan Habibie", sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang menggagas pembangunan kawasan tersebut.

Tiga dekade setelah pembangunannya dimulai, Barelang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wajah Batam. Keberadaannya membuka akses transportasi menuju pulau-pulau di sekitar Batam dan menjadi salah satu bagian dari sejarah perkembangan ekonomi kawasan tersebut.

Pada saat yang sama, Barelang juga menjadi simbol kemampuan Indonesia membangun infrastruktur berskala besar dengan melibatkan teknologi dan tenaga ahli dari dalam maupun luar negeri.

Siluet jembatan yang membentang di atas laut bahkan telah menjadi bagian dari identitas visual Batam. Bentuknya hadir dalam berbagai materi promosi pariwisata dan menjadi salah satu objek fotografi yang populer.

Pada akhirnya, Jembatan Barelang bukan hanya cerita tentang beton, baja, kabel, dan jalan yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya. Di balik konstruksinya terdapat sebuah gagasan tentang bagaimana pertumbuhan Batam diperluas hingga kawasan di sekitarnya.

Dari proyek konektivitas dan pengembangan ekonomi, Barelang kemudian tumbuh menjadi ikon kota dan destinasi wisata. Barelang menjadi bukti bahwa sebuah jembatan dapat menghubungkan bukan hanya pulau, tetapi juga sejarah, teknologi, ekonomi, dan identitas sebuah daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....