Penyebab Benang Jagung Sering Dijadikan Seduhan

  • 16 Sep 2026 14:59 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Benang jagung mungkin lebih sering berakhir di tempat sampah setelah jagung dikupas. Namun, di sejumlah tradisi, bagian tanaman yang berbentuk benang halus ini justru dimanfaatkan sebagai bahan minuman herbal.

Benang jagung, yang dikenal dengan nama corn silk atau Stigma maydis, dapat ditemukan di antara kulit dan tongkol jagung. Bagian ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional dan salah satu cara pemanfaatannya adalah dengan membuatnya menjadi seduhan atau teh herbal.

Dikutip dari penelitian yang terindeks PubMed, benang jagung secara tradisional telah digunakan di berbagai wilayah untuk sejumlah keperluan kesehatan. Dalam praktik tradisional tersebut, benang jagung dapat dikonsumsi dalam bentuk teh atau seduhan, termasuk untuk penggunaan yang berkaitan dengan saluran kemih.

Lantas, mengapa bagian yang biasanya dibuang ini menarik untuk dijadikan minuman? Salah satu alasannya adalah kandungan alami yang terdapat di dalam benang jagung. Kajian ilmiah yang terindeks PubMed mencatat adanya berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, polifenol, asam fenolat, asam lemak dan terpenoid. Kandungan tersebut membuat benang jagung terus menarik perhatian dalam penelitian mengenai potensi aktivitas biologisnya.

Namun, keberadaan berbagai senyawa tersebut tidak serta-merta berarti seduhan benang jagung dapat digunakan sebagai obat. Penelitian mengenai manfaatnya pada manusia masih berkembang dan hasil penelitian yang ada perlu dilihat sesuai dengan jenis penelitian, bahan yang digunakan serta metode pengujiannya.

Hal ini penting karena sebagian penelitian mengenai benang jagung dilakukan menggunakan ekstrak atau melalui penelitian praklinis. Hasil tersebut belum tentu memberikan efek yang sama ketika benang jagung dikonsumsi dalam bentuk seduhan sehari-hari.

Bahkan, sebuah tinjauan sistematis yang membahas penggunaan teh benang jagung untuk tekanan darah menyebutkan bahwa bukti yang tersedia masih terbatas. Peneliti menilai diperlukan penelitian dengan metodologi yang lebih baik untuk memastikan efektivitasnya.

Dengan demikian, seduhan benang jagung lebih tepat dipahami sebagai salah satu bentuk pemanfaatan tradisional tanaman, bukan sebagai pengganti obat atau terapi medis.

Menariknya, kebiasaan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat sejak dulu memanfaatkan bagian tanaman yang tersedia di sekitar mereka. Sesuatu yang bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai sisa setelah mengupas jagung, ternyata memiliki sejarah penggunaan yang cukup panjang dan masih menjadi bahan penelitian hingga sekarang.

Pada akhirnya, cerita tentang benang jagung bukan hanya tentang segelas teh herbal. Ada tradisi, pengetahuan tentang tanaman dan penelitian ilmiah yang membuat bagian kecil dari jagung ini tetap menarik untuk dibicarakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....