Abu Vulkanik Melanda, Perlukah Tetap Pakai Sunscreen
- 10 Sep 2026 21:53 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Ketika terjadi erupsi gunung api dan abu vulkanik mulai menyelimuti wilayah di sekitarnya, masyarakat perlu meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan. Tidak hanya saluran pernapasan dan mata, kulit juga perlu mendapat perhatian karena dapat mengalami iritasi akibat kontak dengan abu vulkanik.
Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan, apakah penggunaan sunscreen masih diperlukan ketika langit tertutup abu atau terlihat mendung? Jawabannya, sunscreen tetap dapat digunakan untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet (UV), terutama bagi masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan. Kondisi langit yang mendung tidak berarti paparan sinar UV sepenuhnya hilang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa radiasi UV masih dapat mencapai permukaan bumi meskipun terdapat tutupan awan. Perlindungan terhadap UV dianjurkan terutama ketika indeks UV berada pada angka 3 atau lebih.
Namun, ada hal penting yang perlu dipahami. Sunscreen bukanlah pelindung dari abu vulkanik. Fungsi utama sunscreen adalah membantu melindungi kulit dari radiasi UV, bukan mencegah partikel abu menempel atau menyebabkan iritasi pada kulit. Karena itu, penggunaan sunscreen tidak boleh menggantikan perlindungan khusus ketika terjadi hujan abu.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyarankan masyarakat untuk menghindari paparan abu sebanyak mungkin. Jika harus berada di luar ruangan, kulit sebaiknya ditutup dengan pakaian lengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi risiko iritasi akibat kontak dengan abu. CDC juga menyarankan penggunaan pelindung mata dan respirator yang sesuai untuk membantu melindungi saluran pernapasan dari abu vulkanik.
Dengan demikian, apabila seseorang harus keluar rumah saat kondisi sudah dinyatakan aman oleh pihak berwenang, sunscreen tetap dapat menjadi bagian dari perlindungan kulit dari sinar UV pada area yang tidak tertutup pakaian. American Academy of Dermatology (AAD) merekomendasikan sunscreen dengan perlindungan broad-spectrum, SPF 30 atau lebih tinggi, dan tahan air untuk perlindungan terhadap sinar UVA dan UVB.
Penggunaan sunscreen juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit. Jika kulit sudah terasa perih, gatal, panas, atau mengalami kemerahan setelah terkena abu, jangan menggosok kulit dengan keras.
Bersihkan kulit secara lembut dan hindari produk yang berpotensi semakin menyebabkan iritasi. Jika keluhan kulit menetap atau semakin parah, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan.
Hal yang tidak kalah penting adalah membersihkan diri setelah kembali dari luar ruangan. Abu yang menempel pada pakaian, rambut, wajah, maupun bagian tubuh lainnya sebaiknya dibersihkan dengan hati-hati agar tidak terus bersentuhan dengan kulit. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi dan arahan dari pemerintah daerah maupun otoritas kebencanaan mengenai kondisi udara dan keamanan untuk beraktivitas di luar rumah.
Pada akhirnya, penggunaan sunscreen saat terjadi paparan abu vulkanik bukan berarti sunscreen dapat menangkal abu. Sunscreen tetap digunakan untuk tujuan utamanya, yaitu membantu melindungi kulit dari paparan sinar UV, sedangkan perlindungan terhadap abu dilakukan dengan mengurangi paparan, menutup kulit, melindungi mata, dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.
Jadi, ketika abu vulkanik melanda, jangan hanya mengingat sunscreen. Perlindungan kulit memang tetap penting, tetapi keselamatan dari paparan abu harus menjadi prioritas utama. Mengikuti arahan otoritas, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta menggunakan perlengkapan pelindung yang tepat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan selama kondisi tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....