Kotak Baca, Berawal dari Sekotak Buku Kini Jadi Ruang Literasi Anak Muda Pekanbaru
- 28 Agt 2026 00:10 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Berawal dari koleksi buku pribadi, komunitas Kotak Baca kini berkembang menjadi salah satu ruang literasi yang menghadirkan beragam kegiatan bagi masyarakat di Pekanbaru. Komunitas ini didirikan oleh Zaky dan Dea yang ingin menghadirkan wadah aktivitas positif, khususnya bagi anak muda.
Founder Kotak Baca, Dea, mengatakan komunitas tersebut awalnya terbentuk dari sekotak buku koleksi pribadi. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai ikut menyumbangkan dan menghibahkan buku sehingga koleksi Kotak Baca terus bertambah.
“Dulunya itu Kotak Baca memang berdiri dari sekotak buku koleksi pribadi. Setelah itu ada yang donasi, ada yang menghibahkan buku-bukunya, koleksi-koleksi pribadinya untuk Kotak Baca,” ujar Dea dalam program Obrolan Komunitas Hobi Pro 2 Pekanbaru, Kamis 27 Agustus 2026.
| Baca juga: Budaya Membaca Dimulai dari Rumah |
Menurutnya, Kotak Baca tidak ingin membatasi literasi hanya pada aktivitas membaca dan menulis. Karena itu, komunitas tersebut terus bereksperimen menghadirkan berbagai kegiatan yang dapat mendekatkan masyarakat dengan literasi melalui cara yang menyenangkan.
Dea menjelaskan, kegiatan Kotak Baca kini mencakup berbagai bidang, terutama sosial, pendidikan, dan budaya. Selain menyediakan buku, komunitas ini juga mengadakan kelas bahasa Mandarin, bahasa isyarat BISINDO, menggambar, melukis, hingga kegiatan berbagi pengalaman mengenai dunia kerja.
“Berbagi pengalaman adalah literasi juga, kan.” katanya.
Sementara itu, Zaky mengatakan kehadiran Kotak Baca juga bertujuan mewarnai dunia literasi di Pekanbaru sekaligus mengisi ruang aktivitas positif bagi anak muda. Ia berharap budaya komunitas yang banyak ditemuinya ketika berada di Bandung juga dapat tumbuh di Pekanbaru.
Menurut Zaky, Pekanbaru memiliki sejarah dan budaya yang menarik untuk dikenali. Sebagai bagian dari Riau yang memiliki akar budaya Melayu, kota ini juga memiliki keberagaman sejarah, termasuk hubungan masyarakat Melayu dan Tionghoa yang turut membentuk kehidupan sosial serta gastronomi di Pekanbaru.
Memasuki usia hampir empat tahun, Kotak Baca kini telah berkembang menjadi yayasan. Meski demikian, para pendirinya memilih untuk tetap menjalankan komunitas dengan semangat yang santai dan menyenangkan.
Dea menuturkan, mereka tidak ingin kegiatan yang awalnya dibangun berdasarkan kegembiraan berubah menjadi sesuatu yang terlalu penuh tekanan. Bagi Kotak Baca, keberlanjutan gerakan dan kesempatan untuk terus bereksperimen menjadi hal yang lebih penting.
Melalui berbagai program tersebut, Kotak Baca ingin menunjukkan bahwa literasi dapat hadir dalam banyak bentuk. Tidak harus selalu dimulai dari kebiasaan membaca buku, tetapi juga dapat tumbuh melalui interaksi, kreativitas, pengalaman, budaya hingga aktivitas mengenal lingkungan sekitar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....