Orang Tua Diminta Terima dan Ciptakan Ruang Aman bagi Anak Berkebutuhan Khusus

  • 25 Agt 2026 18:05 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Penerimaan orang tua menjadi salah satu hal penting dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus. Sikap menerima kondisi anak dapat membantu orang tua membangun lingkungan yang aman sekaligus mendorong masyarakat sekitar untuk memberikan dukungan.

Hal tersebut disampaikan Indah Puji Ratnani, Dosen Fakultas Psikologi UIN Suska Riau sekaligus Ketua SOIna Provinsi Riau, dalam program Sore Ceria Programa 2 RRI Pekanbaru.

Indah mengatakan, salah satu persoalan yang masih sering ditemui adalah sikap denial atau penolakan orang tua terhadap kondisi anak. Tidak sedikit orang tua yang masih sibuk mempertanyakan penyebab kondisi anak atau bahkan saling menyalahkan.

“Kalau di orang tua, yang pertama saya tadi berulang kali mengatakan denial. Denial itu tidak menerima,” kata Indah.

Menurutnya, orang tua perlu terlebih dahulu menerima kondisi anak sebelum dapat memberikan pendampingan secara optimal. Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan menjadi langkah awal untuk mencari cara terbaik dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Indah juga menegaskan bahwa anak berkebutuhan khusus tidak berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Anak dengan kebutuhan khusus dapat lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan berbagai latar belakang sosial maupun ekonomi.

Karena itu, orang tua tidak perlu merasa malu ataupun menganggap kondisi anak sebagai aib. Sebaliknya, orang tua perlu membangun kepercayaan diri dan memberikan pemahaman kepada lingkungan mengenai kondisi anak.

“Kita terima dulu. Nah, ketika kita terima, otomatis ketika aura positif orang tua menerima, masyarakat itu akan terlibat,” jelasnya.

Menurut Indah, konseling seharusnya tidak hanya diberikan kepada anak berkebutuhan khusus. Orang tua juga perlu mendapatkan pendampingan agar mampu menerima kondisi anak dan memahami cara memberikan dukungan yang sesuai.

Ketika orang tua sudah memiliki penerimaan yang baik, mereka dapat menjadi pihak yang membantu menciptakan ruang aman bagi anak. Ruang tersebut tidak hanya berada di rumah, tetapi juga dapat dibangun di sekolah, keluarga besar, hingga lingkungan masyarakat.

Indah mengingatkan orang tua agar tidak menutup diri dari lingkungan. Sebaliknya, komunikasi dengan keluarga besar dan masyarakat sekitar perlu dibangun agar orang-orang di sekitar anak mengetahui bagaimana harus bersikap.

“Jangan didiamkan, berbeda diam dengan mengediamkan. Nah, ini yang penting harus diketahui orang tua,” tuturnya.

Menurutnya, masyarakat juga perlu belajar menjadi lebih peka tanpa terburu-buru memberikan penilaian negatif. Ketika melihat anak berkebutuhan khusus berada di lingkungan umum, masyarakat dapat menunjukkan sikap wajar, menghargai, dan tidak memberikan perlakuan yang membuat anak maupun keluarganya merasa terasing.

Indah juga mendorong orang tua untuk tidak malu memperkenalkan kondisi anak kepada lingkungan. Keterbukaan yang disampaikan dengan cara baik justru dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memahami sekaligus memberikan dukungan.

“Kita percaya diri saja dengan kondisi putra-putri kita. Ini loh putra-putri saya. Kita berkeyakinan saja, Insyaallah,” ujarnya.

Ia menambahkan, orang tua juga dapat melibatkan keluarga besar, termasuk kakek, nenek, saudara, dan kerabat dalam proses edukasi. Dengan semakin banyak orang yang memahami kondisi anak, semakin besar pula kemungkinan terciptanya lingkungan yang ramah dan suportif.

Pada akhirnya, menurut Indah, dukungan terhadap anak berkebutuhan khusus bukan hanya tanggung jawab orang tua. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang aman, penuh empati, serta tidak memberikan stigma.

“Masyarakat itu banyak cerdas. Kalau kita positif, membawa putra-putri kita dengan percaya diri, orang tua justru akan menunjukkan bahwa kita mampu mendampingi anak kita,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....