Mengenal Jenis-Jenis Mobil Listrik: BEV, HEV, dan PHEV

  • 25 Agt 2026 09:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Laju elektrifikasi industri otomotif di Indonesia kian melesat cepat. Masyarakat kini disuguhkan berbagai pilihan kendaraan ramah lingkungan yang makin beragam di pasaran. Namun, istilah otomotif seperti BEV, HEV, dan PHEV kerap membingungkan konsumen awam yang hendak beralih dari mobil konvensional.

Padahal, ketiga akronim tersebut mewakili jenis teknologi propulsi listrik yang memiliki karakteristik, cara kerja, serta sumber energi penggerak yang berbeda secara mendasar. Jenis pertama adalah Battery Electric Vehicle (BEV) atau mobil listrik murni berbasis baterai. Kendaraan ini tidak lagi dibekali mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine) maupun tangki bahan bakar minyak (BBM).

Seluruh daya penggerak mengandalkan motor listrik yang mengambil energi penuh dari battery pack. Pengisian dayanya dilakukan secara eksternal melalui stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) atau fasilitas home charging. BEV menawarkan keunggulan utama berupa nol emisi gas buang (zero emission) serta biaya operasional harian yang sangat efisien.

Sebaliknya, jenis kedua yaitu Hybrid Electric Vehicle (HEV) mengombinasikan dua sumber tenaga sekaligus: mesin bensin konvensional dan motor listrik. Pada mobil HEV, pengguna tidak perlu mengisi daya baterai ke colokan listrik luar.

Baterai pada sistem hybrid terisi secara otomatis memanen energi kinetik saat pengereman (regenerative braking) serta bantuan dari putaran mesin bensin. Sistem komputer mobil akan mengatur perpindahan penggunaan motor listrik dan mesin bensin secara intuitif demi mengoptimalkan konsumsi BBM, terutama saat melaju di tengah kemacetan kota.

Sementara itu, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) hadir sebagai teknologi jembatan yang menggabungkan prinsip BEV dan HEV. Mobil PHEV dibekali mesin bensin sekaligus motor listrik dengan kapasitas baterai yang jauh lebih besar dibanding HEV biasa.

Poin pembedanya, baterai PHEV dapat diisi ulang menggunakan colokan listrik eksternal (plug-in). Pengemudi dapat memanfaatkan mode listrik murni (full EV mode) untuk jarak tempuh harian, dan secara otomatis beralih menggunakan mesin bensin ketika menempuh perjalanan jarak jauh tanpa khawatir kehabisan daya baterai di tengah jalan.

Perbedaan teknologi ini berdampak langsung pada dinamika pasar otomotif nasional. Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penetrasi pasar kendaraan elektrifikasi (xEV) di tanah air terus tumbuh positif, di mana varian BEV dan HEV mendominasi penjualan mobil ramah lingkungan nasional. Menurut laporan hasil kajian teknologi dari Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), adopsi teknologi hybrid (HEV/PHEV) menjadi langkah transisi paling krusial bagi negara berkembang sebelum infrastruktur fast-charging BEV merata secara penuh di seluruh pelosok daerah.

Di tingkat global, diversifikasi ketiga jenis teknologi ini terbukti efektif dalam mempercepat transisi energi di sektor transportasi. Laporan analisis International Energy Agency (IEA) dalam riset Global EV Outlook menekankan bahwa keberadaan variasi BEV, HEV, dan PHEV memberikan fleksibilitas tinggi bagi konsumen global untuk menyesuaikan kebutuhan mobilitas dengan ketersediaan infrastruktur jaringan pengisian daya (charging hub) di negara masing-masing, sehingga penetrasi penurunan emisi karbon sektor transportasi dapat tercapai lebih cepat dan inklusif.

Untuk dapat menentukan pilihan antara BEV, HEV, atau PHEV sangat bergantung pada pola penggunaan harian serta kesiapan akses pengisian daya di sekitar Anda. Bagi masyarakat perkotaan dengan akses charger yang memadai, BEV menawarkan efisiensi energi maksimal dan keramahan lingkungan utuh. Namun, bagi pengguna yang kerap menempuh rute jarak jauh antarkota, teknologi HEV dan PHEV menjadi opsi transisi yang paling praktis dan realistis saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....