Mengenal Baby Breath, Bunga Mungil yang Jadi Favorit untuk Buket dan Pernikahan

  • 25 Agt 2026 00:18 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Bunga baby breath atau Gypsophila mungkin sudah tidak asing bagi pencinta bunga. Ukurannya yang kecil dengan bunga-bunga yang tumbuh bergerombol membuat baby breath terlihat seperti kumpulan awan putih.

Dikutip dari laman floweradvisor.co.id bunga ini sering ditempatkan sebagai pelengkap dalam buket bersama bunga berukuran besar seperti mawar dan lily. Namun, seiring meningkatnya popularitasnya, baby breath kini juga banyak digunakan sebagai bunga utama dalam berbagai rangkaian.

Baby breath berasal dari sejumlah wilayah di Eropa Timur, Afrika, dan Australia. Bunga ini dikenal di Inggris sejak masa Victoria. Pada 1828, seorang tukang kebun kemudian membawa tanaman tersebut ke Amerika Serikat.

Setelah berhasil dibudidayakan di berbagai negara, baby breath mulai digunakan dalam rangkaian bunga sebagai bunga tambahan. Popularitasnya semakin meningkat pada sekitar 1990-an ketika bunga mungil ini banyak diselipkan di antara bunga-bunga berukuran besar.

Lama-kelamaan, baby breath tidak lagi sekadar menjadi pelengkap. Bunga ini mulai dibudidayakan untuk kebutuhan perdagangan dan ekspor. Bahkan, baby breath kini sering dirangkai tanpa bunga lain.

Tanaman baby breath memiliki batang yang tipis, kecil, dan bercabang. Berbeda dari beberapa tanaman bunga lainnya, baby breath tidak mempunyai batang besar.

Batang-batang kecil tersebut dapat saling menopang hingga tanaman mencapai ketinggian sekitar 1,2 meter. Pada bagian cabangnya, tumbuh bunga-bunga berukuran kecil yang bergerombol. Tampilan tersebut membuat baby breath terlihat seperti awan kecil ketika sudah dirangkai.

Secara alami, baby breath banyak ditemukan di wilayah stepa atau padang rumput dan dapat tumbuh pada tanah berkapur. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan nama Gypsophila, yang memiliki kaitan dengan gypsum atau material yang terdapat pada tanah berkapur.

Salah satu faktor yang memengaruhi harga baby breath adalah kondisi lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya.

Tanaman ini cenderung menyukai kondisi yang kering serta tanah dengan pH netral hingga basa. Sementara itu, kondisi lingkungan Indonesia yang beriklim tropis membuat budidaya baby breath membutuhkan penyesuaian, terutama dalam hal kelembapan dan kondisi tanah.

Tanah yang terlalu lembap dapat menjadi tantangan dalam budidaya tanaman ini. Karena itu, drainase dan tingkat keasaman tanah perlu diperhatikan agar kondisi tumbuhnya sesuai.

Selain faktor budidaya, tingginya permintaan juga membuat baby breath memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Bunga ini banyak digunakan untuk dekorasi pernikahan, terutama dalam konsep dekorasi bernuansa Eropa, romantis, maupun minimalis.

Bentuknya yang sederhana membuat baby breath mudah dipadukan dengan berbagai bunga lainnya. Kehadirannya dapat membuat bunga berukuran besar seperti mawar, lily, maupun sedap malam terlihat lebih penuh dan menarik.

Bunga yang awalnya hanya digunakan sebagai pelengkap kini dapat berdiri sendiri dalam sebuah buket. Warna putihnya yang lembut juga membuat baby breath mudah disesuaikan dengan berbagai konsep dekorasi.

Tidak mengherankan jika hingga kini baby breath masih menjadi salah satu pilihan populer dalam industri bunga, khususnya untuk buket dan dekorasi pernikahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....