Fatmawati dan Kisah di Balik Bendera Pusaka
- 16 Agt 2026 11:10 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di balik detik-detik sakral Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, terdapat pengorbanan luar biasa dari sosok Ibu Negara pertama, Fatmawati. Di tengah masa transisi pergerakan kemerdekaan, ia mengemban tugas sejarah menjahit langsung identitas utama kedaulatan bangsa: Sang Saka Merah Putih.
Merujuk pada catatan sejarah resmi di situs Kementerian Sekretariat Negara (Setneg.go.id), Fatmawati menceritakan kisah ini dalam buku autobiografinya, Catatan Kecil Bersama Bung Karno. Bahan kain katun berkualitas tinggi untuk bendera tersebut merupakan pemberian dari pimpinan Barisan Propaganda Jepang (Sendenbu), Hitoshi Shimizu, yang diserahkan melalui seorang perwira muda bernama Chairul Basri.
Proses perolehan bahan tersebut diwarnai situasi perang yang serba terbatas. Menurut publikasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi.go.id), kain merah dan putih tersebut diambil langsung dari gudang penyimpanan di kawasan Pintu Air, Jakarta Pusat, sebelum diantarkan menuju kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Proses penjahitan bendera ini bukan tanpa kendala fisik yang berat. Dalam arsip edukasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud.go.id), Fatmawati merangkai kain tersebut dalam kondisi hamil tua menjelang kelahiran putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra. Akibat kondisi kesehatannya, ia terpaksa tidak menggunakan pedal mesin jahit kaki melainkan menjahitnya secara perlahan menggunakan tangan.
Dengan ketekunan dan derai air mata keharuan, Fatmawati menyelesaikan jaitan bendera dua warna tersebut tepat waktu. Bendera hasil buatan tangannya itulah yang kemudian dikibarkan oleh Latief Hendraningrat dan Suhud pada upacara Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56.
Gema sejarah Bendera Pusaka ini juga turut menjadi sorotan dan kajian arsip berita media internasional seperti BBC, yang mengulas bagaimana simbol sederhana buatan tangan seorang perempuan Indonesia mampu menyatukan tekad seluruh bangsa lepas dari penjajahan pasca-Perang Dunia II.
Kini, Bendera Pusaka asli karya Ibu Fatmawati telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Surat Keputusan Menbudpar. Untuk menjaga fisik kainnya dari kerusakan biologis, bendera asli disimpan secara khusus di Ruang Bendera Pusaka, Istana Merdeka, sementara upacara peringatan kemerdekaan setiap tahunnya menggunakan bendera duplikat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....