Second Account Instagram: Topeng atau Jati Diri

  • 06 Agt 2026 16:30 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pentingkah memiliki second account Instagram? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya berbeda bagi setiap orang. Di tengah budaya media sosial yang semakin menuntut kesempurnaan, banyak pengguna memilih membuat akun kedua sebagai ruang yang lebih privat.

Di sanalah mereka merasa lebih bebas bercerita, mengunggah foto tanpa harus memikirkan estetika, hingga membagikan sisi kehidupan yang tidak ingin diketahui semua orang. Di sisi lain, tidak sedikit yang menganggap akun kedua justru tidak diperlukan.

Menurut mereka, jika seseorang nyaman menjadi dirinya sendiri, satu akun sudah cukup. Perbedaan pandangan ini kemudian melahirkan perdebatan menarik: benarkah second account menjadi tempat seseorang menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya? Atau justru akun utama tetap merupakan gambaran diri yang autentik karena itulah identitas yang sengaja dipilih untuk diperlihatkan kepada publik?

Fenomena ini melahirkan istilah Rinsta (Real Instagram) dan Finsta (Fake Instagram). Meski namanya "fake", Finsta bukan berarti akun palsu untuk menipu. Istilah tersebut justru menggambarkan akun alternatif yang biasanya hanya diikuti oleh teman-teman dekat, sehingga penggunanya merasa lebih leluasa mengekspresikan diri tanpa tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Banyak orang beranggapan akun kedua adalah tempat melepas topeng. Tidak ada tuntutan mengejar jumlah likes, memikirkan tampilan feed, atau menjaga citra di depan orang yang tidak begitu dikenal. Foto buram, cerita gagal, keluhan pekerjaan, hingga candaan receh justru lebih sering muncul di sana. Ruang yang lebih sempit membuat pengguna merasa lebih aman untuk menjadi diri sendiri.

Tak sedikit pula yang mengaku lebih nyaman mengunggah momen sehari-hari di akun kedua dibanding akun utama. Mereka merasa hubungan dengan para pengikut di second account lebih dekat karena berisi keluarga, sahabat, atau orang-orang yang benar-benar dikenal dalam kehidupan nyata.

Namun, psikolog media Pamela B. Rutledge, Ph.D., M.B.A., melalui artikelnya di Psychology Today, menilai fenomena ini tidak sesederhana membedakan mana akun yang "asli" dan mana yang "palsu". Menurutnya, setiap orang memiliki banyak identitas sosial yang muncul sesuai situasi. "Kita semua memiliki diri publik dan diri privat," tulis Rutledge. Karena itu, keberadaan akun utama dan akun kedua lebih mencerminkan perbedaan peran sosial daripada perbedaan keaslian seseorang.

Dalam pandangan tersebut, akun utama bukanlah topeng. Sama seperti seseorang berpakaian formal saat bekerja dan berpakaian santai ketika berkumpul bersama teman, media sosial juga menjadi ruang di mana seseorang memilih cara menampilkan dirinya sesuai audiens yang dihadapi. Memilih apa yang ingin dibagikan kepada publik bukan berarti sedang berpura-pura, melainkan bagian dari mengelola privasi.

Rutledge juga menilai pemisahan antara akun publik dan akun privat menunjukkan bahwa pengguna media sosial mulai semakin dewasa. Menurutnya, orang kini tidak lagi sekadar bertanya apakah seseorang menggunakan Instagram, melainkan bagaimana Instagram digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, menjaga hubungan sosial, sekaligus melindungi ruang privat. Ia menyebut bahwa pemisahan akun merupakan bentuk kesadaran bahwa satu platform dapat mendukung berbagai sisi identitas seseorang.

Di sisi lain, akun kedua pun tidak selalu mencerminkan "diri yang paling asli". Sebagian orang justru membangun karakter baru di sana. Ada yang menjadi lebih sarkastik, lebih berani berkomentar, bahkan lebih emosional karena merasa berada di ruang yang aman. Kebebasan itu terkadang menghadirkan sisi yang belum tentu sama dengan perilaku mereka di kehidupan sehari-hari.

Fenomena second account juga menunjukkan bahwa pengguna media sosial mulai memahami pentingnya membedakan ruang publik dan ruang privat. Tidak semua pengalaman harus diketahui semua orang. Ada cerita yang cukup dibagikan kepada keluarga dan sahabat, sementara ada pula yang memang layak dipublikasikan kepada khalayak luas.

Rutledge mengingatkan bahwa media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Menurutnya, manusia sejak dahulu memang selalu menampilkan diri secara berbeda dalam berbagai situasi, baik saat bekerja, menghadiri acara resmi, maupun ketika berkumpul bersama teman dekat.

Kehadiran Instagram hanya memindahkan kebiasaan tersebut ke ruang digital. Dengan kata lain, memiliki dua akun bukan berarti seseorang memiliki dua kepribadian.

Pada akhirnya, pertanyaan apakah akun utama atau akun kedua yang paling menggambarkan diri seseorang mungkin tidak memiliki jawaban tunggal. Keduanya adalah bagian dari identitas yang sama, hanya ditampilkan kepada audiens yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula.

Yang lebih penting bukanlah berapa banyak akun Instagram yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang menggunakan media sosial secara sehat. Sebab, keaslian seseorang tidak ditentukan oleh akun mana yang lebih sering digunakan, tetapi oleh konsistensi nilai, sikap, dan karakter yang tetap ia bawa, baik di dunia digital maupun dalam kehidupan nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....