Feromon Kematian pada Lebah, Rahasia Koloni Menjaga Diri dari Penyakit

  • 22 Jul 2026 20:55 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Lebah madu memiliki kemampuan luar biasa dalam menjaga kesehatan koloninya. Salah satu mekanisme yang dimiliki adalah perilaku higienis, yakni kemampuan mendeteksi serta membuang individu yang mati atau sakit sebelum penyakit menyebar.

Dari laman entomologically.com perilaku tersebut dipicu oleh keberadaan senyawa kimia tertentu yang dikenal sebagai feromon kematian. Pada larva lebah, dua senyawa yang berperan penting adalah β-ocimene dan asam oleat.

Penelitian menunjukkan β-ocimene merupakan senyawa yang mudah menguap sehingga berfungsi menarik perhatian lebah pekerja untuk memeriksa sel tempat larva berada. Setelah dilakukan pemeriksaan, keberadaan asam oleat menjadi sinyal bahwa larva telah mati dan harus segera dikeluarkan dari sarang.

Kombinasi kedua senyawa tersebut terbukti lebih efektif memicu perilaku higienis dibandingkan jika masing-masing senyawa bekerja sendiri. Karena itu, keduanya dianggap saling melengkapi dalam sistem pertahanan alami koloni lebah.

Kemampuan lebah mengenali sinyal kematian juga dipengaruhi oleh protein pengikat bau atau Odorant Binding Protein (OBP), terutama OBP16 dan OBP18. Penelitian menemukan bahwa lebah yang memiliki kadar kedua protein tersebut lebih tinggi cenderung memiliki perilaku higienis yang lebih baik. Protein ini membantu lebah mengenali β-ocimene maupun asam oleat sehingga proses pembersihan dapat berlangsung lebih cepat.

Asam oleat sendiri telah lama dikenal sebagai feromon kematian pada berbagai jenis serangga. Pada lebah madu, senyawa tersebut menjadi bagian penting dalam sistem kekebalan sosial yang memungkinkan koloni tetap sehat meski hidup dalam populasi yang sangat padat.

Perilaku higienis menjadi salah satu alasan mengapa koloni lebah mampu bertahan dari ancaman berbagai patogen. Dengan segera mengeluarkan individu yang mati atau sakit, peluang penyebaran penyakit di dalam sarang dapat ditekan.

Meski demikian, mekanisme ini juga memiliki sisi negatif. Apabila terlalu banyak lebah terpapar penyakit atau pestisida, proses pembersihan dapat mengurangi jumlah lebah pekerja secara drastis dan memicu melemahnya koloni.

Para ilmuwan menyebut koloni lebah sebagai superorganisme, yaitu sekumpulan individu yang bekerja layaknya satu tubuh. Dalam konsep tersebut, membuang anggota yang mati maupun mengisolasi individu yang sakit merupakan bagian dari strategi alami untuk menjaga kelangsungan hidup seluruh koloni.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....