Mengenai Himalayan Pink Salt
- 25 Jun 2026 10:43 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Popularitas Himalayan pink salt atau garam Himalaya terus meroket di kalangan pencinta gaya hidup sehat. Garam dengan warna merah muda yang khas ini sering kali dianggap sebagai alternatif "ajaib" yang jauh lebih unggul dibandingkan garam dapur putih biasa.
Memiliki label harga yang relatif lebih mahal, garam alami ini kerap dipasarkan dengan berbagai klaim kesehatan yang menggiurkan. Namun, apa saja sebenarnya kandungan, manfaat nyata, serta efek samping yang tersembunyi di balik butiran merah muda estetik ini?
Jika menilik dari sisi kandungannya, warna merah muda pada garam yang ditambang dari kawasan Khewra di dekat pegunungan Himalaya, Pakistan ini berasal dari kaya akan zat besi oksida. Sebuah laporan analisis dari studi internasional yang dipublikasikan oleh Association for Analytical Chemistry (AOAC) International memaparkan garam Himalaya murni setidaknya mendeteksi adanya mineral mikro tambahan seperti kalium, magnesium, dan kalsium.
Kendati demikian, laporan ilmiah tersebut juga menggarisbawahi bahwa konsentrasi mineral mikro ini sangat kecil, yakni kurang dari 2% dari total keseluruhan komponen garam. Sementara sisanya tetap didominasi oleh natrium klorida sebesar 97% hingga 98%.
Terkait klaim manfaatnya, absennya proses pemurnian (refining) yang agresif dan pemutihan kimiawi menjadikan garam Himalaya dinilai lebih alami dan minim agen antikepal (anti-caking agents). Keberadaan mineral kalium dan magnesium di dalamnya dipercaya sebagian kalangan dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh serta mendukung fungsi otot secara lebih optimal. Selain itu, karena ukuran kristal garam Himalaya cenderung lebih kasar dan besar, secara psikologis pengguna sering kali menaburkannya lebih sedikit dalam masakan, yang secara tidak langsung berpotensi membantu mengurangi volume asupan natrium harian.
Namun di balik reputasi sehatnya, garam premium ini menyimpan efek samping serius jika dikonsumsi tanpa edukasi yang tepat. Salah satu risiko terbesarnya adalah rendahnya kadar yodium alami di dalam garam Himalaya.
Berdasarkan regulasi ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, garam konsumsi di Indonesia diwajibkan melalui proses fortifikasi yodium demi mencegah risiko gangguan tiroid serta masalah kekerdilan (stunting) pada anak. Mengganti garam dapur biasa secara total dengan garam Himalaya non-yodium dalam jangka panjang justru berisiko memicu defisiensi yodium yang berbahaya bagi tumbuh kembang keluarga.
Efek samping lainnya berkaitan dengan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Mengutip penjelasan dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, karena unsur utamanya tetaplah natrium klorida yang setara dengan garam dapur biasa, konsumsi garam Himalaya secara berlebihan tetap akan memicu tekanan darah tinggi. Anggapan keliru bahwa garam ini "bebas dikonsumsi sebanyak-banyaknya karena sehat" justru menjadi bumerang medis yang memperberat kerja ginjal dan jantung.
Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) secara global tetap merekomendasikan batas aman konsumsi garam yang seragam bagi orang dewasa, yaitu tidak melebihi 5 gram atau setara dengan 1 sendok teh saja per hari. Batasan ketat ini berlaku sama rata tanpa memandang apakah Anda menggunakan garam meja putih biasa ataupun garam merah muda Himalaya yang mahal di dapur Anda.
Garam Himalaya dapat menjadi pilihan variasi bumbu dapur yang menarik karena kealamian prosesnya dan keunikan estetikanya pada makanan. Namun secara nilai fungsional medis, garam ini bukanlah obat ataupun suplemen ajaib untuk mencegah penyakit. Kunci tubuh yang sehat bukan terletak pada warna garam yang Anda pilih, melainkan pada kedisiplinan Anda dalam membatasi takaran konsumsinya sehari-hari demi menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....