Perbedaan Himalayan Salt vs Garam Biasa

  • 25 Jun 2026 10:39 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tren gaya hidup sehat terus berkembang pesat di tengah masyarakat, termasuk dalam memilih bumbu dapur paling mendasar: garam. Di rak-rak supermarket, pandangan konsumen kini sering kali tertuju pada botol berisi butiran merah muda estetis yang disebut Himalayan pink salt.

Label harga yang jauh lebih mahal dari garam dapur biasa kerap disertai klaim bahwa garam ini jauh lebih kaya nutrisi, lebih murni, dan lebih aman untuk tubuh. Namun, apakah klaim tersebut sepenuhnya benar menurut kacamata medis dan regulasi kesehatan?

Jika dibedah secara ilmiah, perbedaan utama kedua jenis garam ini sebenarnya terletak pada proses produksi dan teksturnya, bukan pada kandungan kimianya secara drastis. Garam dapur biasa umumnya ditambang dari batuan garam bawah tanah atau penguapan air laut yang melalui proses pemurnian padat untuk menghilangkan mineral lain agar berwarna putih bersih.

Sebaliknya, garam Himalaya ditambang secara manual dari tambang garam Khewra di Pakistan dan tidak melalui proses pemurnian intensif, sehingga warna merah mudanya tetap terjaga berkat kandungan sisa mineral minor.

Banyak produsen garam premium mengklaim produk mereka mengandung puluhan mineral esensial yang tidak dimiliki garam putih biasa. Terkait hal ini, sebuah studi komprehensif dari lembaga riset nutrisi internasional, Association for Analytical Chemistry (AOAC) International, mengungkapkan garam Himalaya memang mendeteksi adanya kandungan mineral tambahan seperti magnesium, kalium, dan zat besi. Namun, konsentrasi mineral-mineral tersebut sangatlah kecil yakni kurang dari 2%—sehingga tidak memberikan dampak signifikan bagi kecukupan gizi harian tubuh manusia.

Dari sudut pandang pemenuhan zat gizi, kedua jenis garam ini sejatinya memiliki komponen utama yang sama persis, yaitu natrium klorida (NaCl). Mengutip penjelasan resmi dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, komponen natrium dalam garam biasa maupun garam Himalaya berkisar di angka 97% hingga 98%. Artinya, dari segi risiko terhadap tekanan darah tinggi (hipertensi) dan penyakit kardiovaskular, kedua garam ini memiliki efek yang sama besarnya jika dikonsumsi secara berlebihan.

Ada satu keunggulan penting dari garam dapur biasa yang sering kali terlupakan oleh konsumen modern, yaitu kandungan yodiumnya. Melalui program fortifikasi nasional yang dipantau ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, garam dapur yang beredar di Indonesia diwajibkan mengandung yodium untuk mencegah gangguan tiroid dan tengkes (stunting) pada anak. Sementara itu, garam Himalaya alami umumnya memiliki kandungan yodium yang sangat rendah, kecuali jika produk impor tersebut sengaja ditambahkan yodium secara buatan dalam proses pengemasannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) menegaskan bahwa kunci utama kesehatan bukanlah pada warna atau estetika garam yang dipilih, melainkan pada pembatasan jumlah konsumsinya. WHO merekomendasikan batas aman konsumsi natrium harian adalah tidak lebih dari 2.000 miligram, atau setara dengan 1 sendok teh garam per hari untuk orang dewasa, terlepas dari apa pun jenis garam yang digunakan di dapur Anda.

Memilih antara garam Himalaya atau garam biasa kembali pada preferensi rasa, estetika masakan, dan anggaran belanja masing-masing. Garam Himalaya menawarkan keunikan tampilan dan minimnya proses kimiawi, sementara garam biasa unggul dalam pemenuhan yodium harian yang ekonomis. Kedua jenis garam ini sama-sama sehat bagi tubuh, asalkan masyarakat tetap bijak dan disiplin dalam membatasi takaran konsumsi harian sesuai anjuran dunia medis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....