Alasan Comfort Food Bisa Membuat Hati Lebih Tenang

  • 19 Jun 2026 08:20 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pernahkah Anda merasa suasana hati langsung membaik setelah menyantap semangkuk bakso hangat atau sepiring nasi goreng saat sedang stres? Makanan penenang atau yang populer disebut comfort food sering kali menjadi pelarian utama saat seseorang menghadapi tekanan emosional. Fenomena ini ternyata bukan sekadar sugesti atau rasa lapar biasa, melainkan sebuah proses biologis dan psikologis nyata yang terjadi di dalam tubuh kita.

Secara ilmiah, keterikatan antara makanan dan ketenangan hati bermula dari bagaimana otak merespons kandungan gizi tertentu. Melansir studi yang dirilis dalam International Journal of Environmental Research and Public Health, makanan yang tinggi karbohidrat dan lemak memicu otak untuk melepaskan hormon dopamin dan serotonin. Kedua senyawa kimia ini bertanggung jawab menciptakan rasa bahagia, relaksasi, dan kepuasan instan, sehingga mampu menekan hormon kortisol yang memicu stres.

Namun, efek menenangkan dari comfort food tidak hanya bekerja lewat jalur biokimia otak, melainkan juga melalui jalur memori (psikologis). Berdasarkan riset mendalam dari University of Buffalo, Amerika Serikat, seseorang cenderung mendambakan makanan tertentu karena hidangan tersebut terikat kuat dengan memori masa kecil, rasa aman, atau figur seseorang yang menyayangi mereka. Ketika menyantapnya, otak secara otomatis memutar kembali memori kenyamanan masa lalu, sehingga rasa kesepian atau cemas perlahan luruh.

Kombinasi antara rasa dan suhu makanan juga memegang peranan penting dalam memberikan efek rileks. Merujuk pada artikel ilmiah yang dimuat dalam Journal of Ethnic Foods, makanan berkuah yang disajikan dalam kondisi hangat—seperti sup, soto, atau bubur—memiliki efek termal yang mampu meningkatkan suhu tubuh secara internal. Peningkatan suhu tubuh yang ringan ini secara fisiologis meniru efek berendam di air hangat, yang merangsang sistem saraf parasimpatis untuk membuat tubuh menjadi lebih santai.

Pandangan sains internasional ini juga selaras dengan analisis para pakar kesehatan di dalam negeri. Berdasarkan kajian psikologi klinis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), comfort food masyarakat Indonesia mayoritas bersifat komunal atau makanan yang sering disantap bersama keluarga. Oleh karena itu, bagi masyarakat kita, makan bukan lagi sekadar urusan biologis untuk mengenyangkan perut, melainkan sebuah ritual emosional untuk memanggil kembali rasa aman dan kehangatan rumah di tengah padatnya tekanan hidup modern.

Meski efektif memberikan ketenangan instan, para ahli tetap mengingatkan pentingnya menjaga batasan agar tidak terjebak dalam perilaku emotional eating (makan berlebih akibat emosi). Menjadikan makanan sebagai pelarian stres jangka panjang tanpa kontrol justru berpotensi memicu masalah kesehatan baru, seperti obesitas atau gangguan metabolisme tubuh.

Comfort food adalah bukti betapa ajaibnya hubungan antara makanan, otak, dan perasaan kita. Sepiring hidangan sederhana terbukti mampu menjadi pelukan hangat yang menenangkan jiwa, pengingat bahwa di tengah riuhnya dunia, ketenangan terkadang bisa sesederhana menyantap masakan yang kita cinta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....