Mengistirahatkan Diri lewat Joy of Missing Out
- 25 Mei 2026 05:53 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di era digital yang serba cepat, sering kali merasa takut tertinggal oleh tren terbaru atau biasa dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out). Namun, muncul sebuah gerakan kebalikannya bernama JOMO (Joy of Missing Out).
JOMO awalnya populer sebagai tren gaya hidup di internet, fenomena ini akhirnya malah menjadi objek keseriusan akademis dan psikologi klinis. JOMO bisa saja menjadi suatu kebutuhan evolusioner di tengah masyarakat modern yang mengalami kelelahan digital (digital burnout). Jika FOMO didorong oleh rasa takut akan penolakan sosial, maka JOMO adalah bukti kemandirian emosional, di mana seseorang tidak lagi menggantungkan validasi dirinya pada orang lain.
Analisis Harvard Business Review (HBR) tentang dinamika kerja modern mengungkapkan bahwa JOMO menjadi bentuk pertahanan diri untuk mempertahankan produktivitas dan kesehatan mental di kantor. Di tengah budaya yang menuntut karyawan untuk selalu siap sedia merespons pesan, keberanian untuk menerapkan JOMO seperti membatasi diri dari obrolan grup yang tidak penting atau tidak menyentuh email kerja di hari libur justru terbukti efektif mencegah burnout, mengembalikan fokus yang terpecah, dan menjaga performa kerja tetap optimal dalam jangka panjang.
Penelitian dari University of British Columbia menemukan bahwa individu yang mempraktikkan JOMO cenderung memiliki kualitas hubungan yang lebih dalam secara personal. Ketika seseorang melepaskan keinginan untuk selalu up-to-date, mereka memiliki energi lebih banyak untuk berkumpul bersama orang-orang terdekat di dunia nyata. Hal tersebut tentunya akan meningkatkan skala kebahagiaan secara signifikan.
Selain itu, dalam buku The Joy of Missing Out: Finding Balance in a Wired World karya Christina Crook terdapat ulasan bahwa JOMO sebenarnya adalah tentang batasan. Kita tidak bisa mengontrol derasnya informasi atau banyaknya undangan yang datang, tetapi diri kita punya kendali penuh pada untuk menolak suatu ajakan. Menurut Crook, setiap kali melakukan penolakan tersebut, dapat diartikan bahwa kita sedang mendamaikan pikiran dan hanya memilih hal yang benar-benar penting dalam hidup.
Kesimpulannya, JOMO mengembalikan definisi kebahagiaan ke genggaman sendiri, bukan di genggaman algoritma atau postingan orang lain. Menikmati kesunyian, membatasi lingkaran sosial, dan memilih istirahat sejenak bukanlah tanda anti sosial bahkan kalah dalam kehidupan. Hal tersebut menjadi tanda meningkatnya level mengenal diri sendiri. Menjadikan kita sebagai individu yang tahu kapan harus berhenti dan merawat diri sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....