Pijar Kenangan Lampu Petromak
- 06 Mei 2026 17:13 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID. Pekanbaru - Lampu petromak pernah menjadi primadona penerangan di rumah-rumah penduduk sebelum kabel listrik menjangkau pelosok desa. Alat penerangan berbahan bakar minyak tanah ini memiliki bentuk yang sangat ikonik, lengkap dengan tabung kaca pelindung dan tangki logam kokoh di bagian bawahnya.
Kehadirannya selalu menandakan dimulainya aktivitas malam keluarga, mulai dari makan malam bersama hingga saat anak-anak tekun belajar di bawah siraman cahayanya yang putih terang. Disadur dari Sudarsono, dkk. (2018). Perkembangan Teknologi Penerangan di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, keunikan petromak terletak pada ritual menyalakannya yang memerlukan kesabaran serta keterampilan khusus.
Pengguna harus memompa tangki berulang kali untuk menciptakan tekanan udara agar bahan bakar bisa naik menuju bagian atas. Tidak berhenti di situ, ada bagian bernama "kaos lampu" atau filamen yang harus dibakar terlebih dahulu hingga membara menjadi putih. Proses memompa dan suara desis khas yang dihasilkan saat lampu menyala menciptakan atmosfer malam yang tak terlupakan bagi generasi terdahulu.
Cahaya yang dihasilkan petromak jauh lebih kuat dan jernih dibandingkan lampu tempel atau lilin biasa pada masanya. Hal ini terjadi karena adanya sistem penguapan bahan bakar yang bercampur dengan udara di bawah tekanan tinggi di dalam mesin lampu.
Satu buah lampu petromak di tengah ruangan biasanya sudah cukup untuk menerangi seluruh isi rumah. Di pasar malam atau hajatan kampung, deretan petromak yang digantung akan menciptakan suasana meriah yang hangat dan penuh keakraban sosial.
Meskipun sangat berguna, petromak juga menuntut perawatan yang sangat teliti agar tetap berfungsi dengan prima. Kaus lampu yang sudah putih dan rapuh sangat mudah hancur jika tersentuh sedikit saja, sehingga pemiliknya harus selalu memiliki stok cadangan di rumah.
Selain itu, kaca pelindungnya harus rajin dibersihkan dari sisa jelaga agar pancaran cahaya tetap maksimal. Kesederhanaan teknologi ini justru mengajarkan pemiliknya untuk lebih peduli dan telaten terhadap barang yang mereka miliki sehari-hari.
Seiring masuknya aliran listrik ke pemukiman, posisi petromak perlahan mulai tergeser oleh lampu pijar dan LED yang jauh lebih praktis. Kini, lampu petromak lebih banyak dijumpai di gudang tua atau menjadi barang koleksi berharga bagi para pencinta barang antik.
Namun, bagi banyak orang, petromak bukan sekadar alat penerangan yang sudah usang. Ia adalah simbol perjuangan dan kehangatan keluarga di masa lalu yang cahayanya akan selalu tetap berpijar dalam ruang ingatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....