Pesan Besar Hari Buku Sedunia 23 April
- 22 Apr 2026 22:11 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah derasnya arus informasi digital, ada satu hal yang sering terlupakan keheningan yang lahir dari membaca sebuah buku. Saat halaman demi halaman dibuka, kita tidak hanya menyerap kata, tetapi juga menyelami makna, mengenal dunia, bahkan memahami diri sendiri.
Buku menjadi ruang sunyi yang justru menghadirkan banyak suara sseperti suara masa lalu, suara budaya, hingga suara harapan masa depan. Kesadaran inilah yang setiap tahun dihidupkan kembali oleh UNESCO melalui peringatan World Book and Copyright Day pada 23 April. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa buku bukan sekadar bacaan, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi dan melintasi batas budaya.
Melansir laman UNESCO, Tahun ini sorotan dunia tertuju pada Rabat yang ditetapkan sebagai Ibu Kota Buku Dunia. Penetapan ini merupakan bagian dari upaya UNESCO bersama organisasi internasional di sektor perbukuan mulai dari penerbit, penjual buku, hingga perpustakaan untuk terus menghidupkan budaya membaca di tengah masyarakat global.
Program Ibu Kota Buku Dunia sendiri telah berjalan sejak tahun 2001, dimulai dari Madrid sebagai kota pertama yang mendapat kehormatan tersebut. Hingga tahun 2026, tercatat sudah 26 kota dari berbagai belahan dunia yang terpilih dan berkomitmen mempromosikan literasi secara inklusif.
Melalui program ini, kota-kota terpilih tidak hanya menggelar kegiatan membaca, tetapi juga menciptakan ekosistem literasi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Dari anak-anak hingga orang dewasa, dari ruang kelas hingga ruang publik—semua diajak untuk kembali dekat dengan buku.
Buku, dalam perannya, bukan hanya kumpulan kata. Ia adalah jendela menuju dunia yang lebih luas. Setiap halaman membuka cerita baru, memperkenalkan budaya yang berbeda, hingga menghadirkan gagasan yang mampu menginspirasi perubahan.
Di tengah perkembangan teknologi digital saat ini, peringatan Hari Buku Sedunia menjadi momentum penting untuk kembali menegaskan bahwa membaca tetap relevan. Buku tetap menjadi sumber pengetahuan, refleksi, dan penghubung antar manusia tanpa batas ruang dan waktu.
Melalui semangat ini, UNESCO berharap budaya membaca tidak hanya menjadi kebiasaan, tetapi juga menjadi kebutuhan yang terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....