Mengenal Panic Attack: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

  • 20 Apr 2026 17:08 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Rasa cemas adalah hal yang manusiawi, namun ketika perasaan takut muncul secara tiba-tiba dan sangat hebat tanpa adanya bahaya nyata, itulah yang disebut sebagai serangan panik atau panic attack. Kondisi ini sering kali datang tanpa peringatan dan bisa dialami oleh siapa saja, sehingga penting bagi kita untuk mengenali karakteristiknya agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih saat gejala muncul.

Gejala panic attack sering kali menyerupai gangguan fisik yang serius, seperti sesak napas, jantung berdebar kencang (palpitasi), hingga rasa nyeri di dada. Mengutip penjelasan dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), individu yang mengalami serangan ini kerap merasa seperti sedang kehilangan kendali atau bahkan merasa nyawanya terancam. Gejala fisik ini biasanya memuncak dalam waktu 10 menit sebelum perlahan mereda.

Mengenai penyebabnya, para ahli kesehatan mental menyebutkan adanya kombinasi faktor genetika, stres berat, hingga perubahan fungsi pada bagian otak tertentu. Merujuk pada riset yang dipublikasikan dalam The Lancet Psychiatry, serangan panik bisa dipicu oleh respons "lawan atau lari" (fight or flight) alami tubuh yang terlalu sensitif. Sistem saraf melepaskan hormon adrenalin secara berlebih meskipun tidak ada ancaman fisik yang nyata di sekitar individu tersebut.

Selain faktor internal, lingkungan dan gaya hidup juga memegang peranan penting. Konsumsi kafein berlebih, kurang tidur, hingga trauma masa lalu yang belum terselesaikan dapat menjadi faktor risiko. Oleh karena itu, mengenali pemicu spesifik melalui bantuan profesional sangat disarankan agar intensitas serangan dapat dikelola dengan lebih baik di kemudian hari.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya saat serangan terjadi? Teknik pernapasan adalah kunci utama. Sesuai dengan panduan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), teknik box breathing atau bernapas dengan pola 4-4-4 (tarik, tahan, buang) dapat membantu menenangkan sistem saraf parasimpatis. Fokuskan pikiran pada satu objek di sekitar untuk membantu otak kembali "membumi" (grounding) dan menyadari bahwa situasi saat ini aman.

Selain penanganan mandiri, dukungan dari orang terdekat juga sangat berarti. Jangan ragu untuk mencari bantuan medis jika serangan terjadi berulang kali dan mulai mengganggu produktivitas harian. Penanganan melalui terapi perilaku kognitif (CBT) telah terbukti secara klinis efektif dalam membantu pasien mengubah pola pikir yang memicu kepanikan tersebut.

Meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental adalah langkah awal untuk menciptakan masyarakat yang lebih tangguh. Dengan memahami bahwa panic attack adalah kondisi medis yang dapat dikelola, kita tidak perlu lagi merasa malu atau takut. Tetap tenang, kenali gejalanya, dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahlinya demi kualitas hidup yang lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....