Mengenal Dermatitis Seboroik: Penyakit Kulit yang Sering Disalahartikan sebagai

  • 17 Apr 2026 13:40 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Menurut penjelasan medis dari Mayo Clinic, gejala berupa kulit kemerahan dan bersisik yang membandel bisa jadi merupakan tanda Dermatitis Seboroik. Gangguan kulit kronis ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat karena kemiripan fisiknya dengan masalah rambut harian, sehingga penanganannya pun sering kali menjadi kurang tepat.

Penyakit ini umumnya menyerang area tubuh yang memiliki banyak kelenjar minyak, dimana National Eczema Association menyebutkan peradangan tersebut dipicu oleh pertumbuhan jamur Malassezia yang berlebihan pada permukaan kulit yang berminyak. Kondisi ini membuat area seperti kulit kepala, lipatan hidung, hingga belakang telinga tampak mengkilap namun berkerak dengan warna kekuningan yang khas.

Perbedaan mendasar antara ketombe biasa dengan kondisi ini terletak pada tingkat peradangannya, yang mana pakar kesehatan melalui laman Healthline menekankan bahwa Dermatitis Seboroik melibatkan reaksi inflamasi yang jauh lebih intens dan sering disertai rasa gatal yang menyengat. Jika ketombe hanya berupa kulit mati yang kering, Dermatitis Seboroik menunjukkan tanda-taran kulit yang meradang dan terkadang basah karena produksi sebum yang tidak terkontrol.

Faktor pemicu kekambuhannya pun sangat beragam, mulai dari stres hingga perubahan cuaca, sebagaimana diperingatkan oleh American Academy of Dermatology bahwa kondisi fisik yang kelelahan dapat memperburuk gejala secara signifikan. Oleh karena itu, penderita disarankan untuk lebih peka terhadap kondisi tubuhnya agar bisa meminimalisir risiko munculnya ruam yang lebih luas di area wajah atau dada.

Dalam hal pengobatan, panduan dari Cleveland Clinic menyarankan penggunaan sampo khusus yang mengandung zat antijamur seperti ketoconazole atau selenium sulfide untuk mengendalikan populasi jamur di kulit kepala. Penggunaan bahan-bahan tersebut harus dilakukan secara konsisten, mengingat sifat penyakit ini yang cenderung hilang-timbul atau bersifat jangka panjang bagi sebagian orang.

Selain pengobatan medis, menjaga pola hidup dan kebersihan area wajah juga menjadi kunci utama, di mana para ahli di WebMD menyarankan penghindaran produk perawatan kulit berbahan dasar alkohol yang dapat memicu iritasi lebih parah. Dengan menjaga kelembapan kulit secara seimbang, barier pelindung kulit tetap terjaga sehingga potensi infeksi sekunder akibat garukan dapat ditekan seminimal mungkin.

Penting bagi kita untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kulit jika gejala tidak kunjung membaik, karena menurut laporan British Journal of Dermatology, diagnosa yang cepat dan akurat dapat mencegah komplikasi kulit yang lebih serius di masa depan. Edukasi mengenai kesehatan kulit ini diharapkan dapat mengisi celah informasi bagi pembaca portal RRI agar lebih peduli terhadap kesehatan jangka panjang tubuh mereka

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....