Lukah atau Bubu Alat Penangkap Ikan Tradisional Kampar

  • 17 Mar 2026 09:10 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Kampar - Lukah atau bubu merupakan salah satu alat penangkap ikan tradisional yang telah lama digunakan oleh masyarakat di Kabupaten Kampar. Alat ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, khususnya oleh masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dan rawa.

Penggunaan lukah tidak hanya mencerminkan cara hidup yang selaras dengan alam, tetapi juga menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan-bahan sederhana untuk kebutuhan sehari-hari. Lukah biasanya dibuat dari anyaman bambu atau rotan yang dibentuk menyerupai tabung dengan salah satu ujungnya memiliki pintu masuk berbentuk corong. Desain ini memungkinkan ikan masuk ke dalam perangkap, tetapi sulit untuk keluar kembali, ukuran dan bentuk lukah bisa bervariasi tergantung pada jenis ikan yang ingin ditangkap, seperti ikan baung, patin, atau selais yang banyak ditemukan di perairan Kampar.

Dikutip dari Dinas Perikanan Kabupaten Kampar, proses pembuatan lukah dilakukan secara manual dengan keterampilan khusus. Bambu dipotong, dibelah, kemudian dianyam dengan pola tertentu agar kuat dan tahan lama di dalam air.

Selain itu, pengrajin biasanya memperhatikan kerapatan anyaman agar ikan tidak mudah lolos. Pembuatan lukah tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari tradisi budaya yang mempererat hubungan antarwarga. Dalam penggunaannya, lukah dipasang di sungai, parit, atau rawa dengan cara direndam dan diberi umpan, seperti dedak, potongan ikan, atau buah-buahan tertentu. Biasanya, lukah dipasang pada sore hari dan diperiksa keesokan paginya, teknik ini dianggap efektif karena memanfaatkan kebiasaan ikan yang aktif mencari makan pada malam hari.

Keunggulan lukah dibandingkan alat tangkap modern adalah sifatnya yang ramah lingkungan. Lukah tidak merusak habitat ikan dan tidak menangkap ikan dalam jumlah berlebihan. Selain itu, alat ini juga tidak memerlukan bahan kimia atau teknologi tinggi, sehingga lebih aman bagi ekosistem perairan.

Hal ini menjadikan lukah sebagai salah satu metode penangkapan ikan yang berkelanjutan. Ditengah perkembangan zaman, penggunaan lukah mulai berkurang karena masyarakat beralih ke alat tangkap yang lebih modern dan praktis. Namun demikian, masih ada sebagian masyarakat Kampar yang mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya mereka, bahkan, lukah kini juga mulai dilirik sebagai produk kerajinan yang memiliki nilai seni dan potensi ekonomi.

Melestarikan penggunaan lukah bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi juga tentang mempertahankan keseimbangan alam dan kearifan lokal. Dengan mengenalkan alat ini kepada generasi muda, diharapkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup. Lukah atau bubu bukan sekadar alat penangkap ikan, melainkan simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam di Kampar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....