Sejarah Warna-Warni Jagung sebelum Dominasi Kuning

  • 13 Mar 2026 11:47 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Zaman sekarang, jagung identik dengan bulir berwarna kuning cerah. Namun, secara historis, jagung yang kita kenal sekarang berasal dari rumput liar Meksiko bernama Teosinte yang memiliki penampilan sangat berbeda dengan biji yang sangat keras.

Ribuan tahun yang lalu, penduduk asli Amerika melakukan seleksi benih dan membudidayakan jagung dengan keragaman genetik yang luar biasa. Hasilnya, sebagaimana dicatat dalam buku The Story of Corn karya Betty Fussell, muncul tongkol-tongkol yang dihiasi warna-warni pelangi seperti merah tua, biru, ungu, hingga hitam. Warna-warna ini berasal dari pigmen alami seperti antosianin dan karotenoid yang terkandung dalam setiap bulirnya.

Keberagaman warna jagung purba mencerminkan kekayaan budaya dan fungsi yang berbeda-beda bagi peradaban kuno seperti Suku Maya, Aztek, dan Inka. Jagung biru atau ungu, misalnya, sering digunakan dalam upacara adat atau diolah menjadi minuman khusus seperti Chicha Morada di Peru karena tekstur dan rasanya yang unik.

Setiap wilayah memiliki varietas lokal yang diadaptasikan dengan kondisi tanah setempat, sehingga warna jagung menjadi identitas geografis dan simbol spiritual bagi masyarakat agraris di seluruh benua Amerika jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Hal ini diperkuat oleh catatan dari CIMMYT (International Maize and Wheat Improvement Center) yang menyatakan bahwa keanekaragaman hayati ini adalah kunci ketahanan pangan mereka.

Jagung berwarna kuning baru terjadi secara masif di awal abad ke-20 karena alasan industri dan nutrisi ternak. Menurut data sejarah dari USDA National Agricultural Library, pada masa itu para peneliti menemukan bahwa jagung kuning memiliki kandungan vitamin A (beta-karoten) yang jauh lebih tinggi dibandingkan jagung putih atau varietas warna lainnya. Penemuan ini mendorong para petani komersial di Amerika Serikat dan seluruh dunia untuk fokus menanam varietas kuning guna meningkatkan kualitas gizi hewan ternak dan memenuhi standar pasar yang mulai menginginkan keseragaman produk demi efisiensi perdagangan massal.

Selain faktor nutrisi, dominasi warna kuning juga didorong oleh standarisasi industri pangan global. Dalam buku Corn and Capitalism karya Arturo Warman, dijelaskan bahwa jagung kuning dipilih karena konsistensi hasil panen dan karakteristiknya saat diolah secara massal menjadi tepung, minyak, atau sirup jagung yang kini menjadi bahan dasar ribuan produk pangan modern.

Produksi skala besar ini secara perlahan menggeser varietas jagung tradisional atau heirloom corn ke pinggiran. Akibatnya, banyak orang di era modern tumbuh besar dengan anggapan bahwa jagung memang secara alami hanya berwarna kuning, tanpa menyadari sejarah panjang keragaman warnanya.

Dominasi jagung kuning di pasar global saat ini merupakan hasil dari seleksi industri dan kebutuhan nutrisi massal, bukan gambaran asli dari keanekaragaman hayati tanaman ini. Meskipun jagung kuning kini menjadi standar utama di supermarket, upaya pelestarian varietas jagung warna-warni mulai kembali populer di kalangan petani organik dan organisasi seperti Native Seeds/SEARCH karena nilai sejarah serta kandungan antioksidannya yang tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....