Mengenal Jejak Putih Pesawat
- 13 Mar 2026 10:23 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Saat pesawat melintas di langit, terdapat awan putih panjang yang tertinggal membentuk garis. Secara ilmiah fenomena ini disebut sebagai contrail, singkatan dari condensation trail (jejak kondensasi).
Berdasarkan Buku Airspace: Contrails dari National Aeronautics and Space Administration (NASA), fenomena ini merupakan hasil tabrakan antara uap air dari mesin pesawat dengan uap air di udara. Munculnya jejak ini sangat bergantung pada kondisi suhu dan kelembapan di sekitar pesawat saat itu.
Dijeaskan dalam situs web Britannica berjudul What Is Known (and Not Known) About Contrails, contrail terjadi sebagai akibat proses pembakaran dan kondensasi. Dalam mesin pesawat terjadi pembakaran antara bahan bakar dan gas oksigen di udara, akibatnya, dihasilkan produk sampingan berupa uap air. Uap air saat berasa di daerah bertekanan udara rendah akan mengembun membentuk tetesan air cair, saat udara sampai di titik cukup rendah, tetesan air membeku menjadi kristal es kecil yang kemudian membentuk contrail.
Tahan lama jejak pesawat ini, sangat bergantung pada suhu udara, kelembapan, dan cuaca. Durasi bertahan sebuah contrail di langit memberikan petunjuk penting mengenai kondisi cuaca di ketinggian tersebut. Jika udara di atmosfer cenderung kering, kristal es akan segera menyublim dan menghilang dengan cepat, meninggalkan jejak yang pendek.
Namun, jika kelembapan udara di ketinggian tersebut sangat tinggi, contrail akan bertahan jauh lebih lama, melebar, dan bahkan bisa berubah menjadi awan sirus buatan. Oleh karena itu, para pengamat cuaca sering menggunakan ketahanan jejak pesawat ini sebagai indikator untuk memprediksi datangnya perubahan cuaca atau badai.
Meskipun terlihat indah, para ilmuwan kini mulai menaruh perhatian lebih pada dampak lingkungan dari contrail. Pada 2004, Pusat Penelitian Langley NASA di Hampton, Virginia, menemukan bahwa contrail berkontribusi terhadap pemanasan global dengan meningkatkan penutup awan sirus.
Jejak yang bertahan lama dan membentuk awan sirus dapat memerangkap panas di atmosfer bumi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai efek rumah kaca lokal. Berbeda dengan awan alami yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa, awan hasil contrail ini cenderung menahan panas bumi agar tidak keluar ke atmosfer, sehingga secara tidak langsung berkontribusi pada pemanasan global dalam skala kecil namun signifikan secara akumulatif.
Jejak putih pesawat atau contrail adalah kristal es yang terbentuk akibat perbedaan suhu ekstrem, jejak pesawat ini bisa menjadi bahaya saat suhu sangat tinggi sampai tercipta awan sirus. Awan ini bisa menahan panas bumi yang menjadikan pemanasan global. Penelitian lebih lanjut mengenai contrail terus dilakukan oleh industri penerbangan untuk menemukan cara mengurangi pembentukannya, guna meminimalkan dampak jejak karbon dan jejak kondensasi terhadap perubahan iklim di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....