Sejarah Tanaman Kentang Masuk ke Asia
- 10 Mar 2026 09:45 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru – Kentang yang kini menjadi bahan makanan populer di berbagai belahan dunia ternyata memiliki perjalanan sejarah panjang sebelum akhirnya dikenal luas di Asia, termasuk Indonesia. Tanaman umbi ini mulai menyebar ke kawasan Asia setelah abad ke-17, ketika bangsa Eropa membawanya melalui jalur perdagangan di wilayah pesisir.
Pada masa itu, bangsa Belanda tercatat menanam kentang di Kepulauan Penghu di Selat Taiwan saat mereka menduduki wilayah tersebut pada tahun 1624 hingga 1662. Hubungan perdagangan antara Taiwan dan pesisir Provinsi Fujian di Tiongkok membuka kemungkinan besar kentang mulai diperkenalkan ke daratan Tiongkok melalui jalur ini.
Mengutip catatan dalam sejarah tanaman kentang, sebuah dokumen sekitar tahun 1700 menyebutkan bahwa kentang mulai dibudidayakan di wilayah pegunungan utara Fujian. Pada periode yang hampir bersamaan, orang Rusia membawa tanaman ini dari Siberia menuju selatan Manchuria hingga wilayah utara Tiongkok. Sejak diperkenalkan pada akhir masa Dinasti Ming, kentang bahkan sempat menjadi hidangan istimewa di lingkungan keluarga istana.
| Baca juga: Manfaat dan Cara Konsumsi Buah Lotus |
Seiring waktu, budidaya kentang berkembang pesat di Tiongkok hingga negara tersebut kini dikenal sebagai produsen kentang terbesar di dunia. Meski demikian, dalam konsumsi pangan, kentang masih berada di bawah jagung dan ubi jalar. Namun perlu diketahui, sekitar 80 persen jagung dan lebih dari 40 persen ubi jalar umumnya digunakan sebagai pakan ternak, sementara kentang sebagian besar langsung dikonsumsi oleh manusia.
Perjalanan kentang juga sampai ke Nusantara melalui peran kolonial Belanda. Catatan awal menunjukkan tanaman ini mulai ditanam di Indonesia sekitar tahun 1794, pertama kali di wilayah Cimahi, Jawa Barat. Dari sana, budidaya kentang menyebar ke kawasan Priangan dan Gunung Tengger.
Pada tahun 1812, kentang sudah dikenal dan diperdagangkan di wilayah Kedu, Jawa Tengah. Sementara itu di Sumatra, tanaman ini bahkan telah lebih dahulu dikenal sejak tahun 1811. Para petani Batak yang pertama kali membudidayakan kentang di dataran tinggi Sumatra menyebutnya dengan istilah “kentang holanda”.
Perkembangan budidaya kentang di Indonesia terus meningkat dari waktu ke waktu. Indonesia bahkan dikenal sebagai salah satu produsen kentang terbesar di Asia Tenggara, dengan produksi yang pernah mencapai sekitar satu juta ton pada tahun 2003. Dalam rentang waktu 1960-an hingga pertengahan 1990-an, pertumbuhan produksi kentang di Indonesia rata-rata berada di kisaran 9 persen.
Sementara itu di India, keberadaan kentang sudah tercatat dalam catatan perjalanan seorang pengelana Inggris bernama John Fryer pada tahun 1675. Ia menyebut adanya kebun sayur yang menanam kentang di wilayah Surat dan Karnataka. Ketika memperkenalkannya di pesisir barat India, bangsa Portugis menyebut tanaman ini dengan nama batata, sedangkan orang Inggris di Bengal menyebutnya alu.
Menjelang akhir abad ke-18, kentang mulai dibudidayakan di lembah-lembah utara India. Dalam perkembangannya, bangsa Belanda menjadi pihak yang pertama membawa budaya penanaman kentang ke wilayah tersebut, sementara bangsa Inggris kemudian memperkenalkan berbagai varietas baru. Penanaman kentang di lahan terasering perbukitan Dehradun tercatat mulai dilakukan pada tahun 1830, dan tak lama kemudian ditemukan pula metode penanaman di lahan datar.
Dari India, kentang kemudian masuk ke Tibet pada abad ke-19 melalui jalur perdagangan. Sejak saat itu, tanaman umbi ini terus menyebar dan menjadi salah satu komoditas pangan penting di berbagai negara Asia hingga sekarang.
Perjalanan panjang kentang dari Amerika Selatan hingga menjadi bagian dari budaya kuliner Asia menunjukkan bagaimana perdagangan, kolonialisme, dan pertukaran budaya turut membentuk pola konsumsi pangan dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....