Jejak Sejarah Gorengan Dari Mesir hingga Indonesia

  • 06 Mar 2026 15:53 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Gorengan kini menjadi camilan yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia. Dari pinggir jalan hingga hidangan berbuka puasa saat Ramadan, berbagai jenis gorengan seperti pisang goreng, tempe goreng, dan bakwan selalu hadir menggugah selera.

Namun, kebiasaan menggoreng makanan ternyata memiliki sejarah panjang yang melintasi berbagai peradaban dunia. Dalam buku Food That Changed History (2015), Christopher Cumo menjelaskan bahwa dari Mesir, teknik menggoreng kemudian menyebar ke berbagai wilayah lain, termasuk Eropa dan Tiongkok, kemudian mengembangkan berbagai teknik menggoreng yang lebih beragam. Di Tiongkok misalnya, dikenal teknik stir frying atau menumis cepat dengan sedikit minyak, sementara di Eropa berkembang teknik deep frying yang menggunakan minyak dalam jumlah banyak.

Seiring dengan mobilitas dan migrasi masyarakat dari kedua wilayah tersebut, teknik memasak ini ikut menyebar ke berbagai belahan dunia. Di benua Amerika, misalnya, teknik menggoreng baru dikenal setelah kedatangan bangsa Eropa. Sebelumnya, masyarakat setempat tidak memiliki tradisi memasak dengan metode tersebut.

Pengaruh serupa juga terjadi di Nusantara. Teknik menggoreng mulai dikenal luas di Indonesia sejak abad ke-16, ketika pedagang dan pendatang dari Tiongkok serta Eropa datang dan membawa berbagai unsur budaya, termasuk cara memasak. Lambat laun, metode ini diadaptasi oleh masyarakat lokal dan menjadi bagian dari tradisi kuliner.

Perkembangan budaya menggoreng di Indonesia semakin pesat pada abad ke-19 ketika minyak kelapa mulai digunakan secara luas sebagai bahan memasak. Selain itu, bangsa Eropa khususnya Belanda memperkenalkan mentega sebagai alternatif bahan menggoreng.

Laman Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia. 2016 mencatat sejarah teknik menggoreng sudah dikenal sejak 2500 sebelum masehi di Mesir kuno. Blake Lingle dalam bukunya Fries! (2016) menyebut masyarakat Mesir telah menggunakan minyak panas untuk mengolah makanan.

Perubahan besar terjadi sejak 1970-an, ketika industri minyak goreng sawit berkembang pesat. Produksi minyak yang lebih murah membuat masyarakat semakin mudah menggoreng makanan. Bersamaan dengan hadirnya tepung terigu produksi industri, berbagai makanan goreng berbahan tepung pun semakin populer.

Sejak saat itu, gorengan tidak lagi sekadar makanan tambahan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat Indonesia hadir dari pagi hingga malam, bahkan menjadi menu favorit saat berbuka puasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....