Lidah Buaya si Tanaman Serbaguna dari Jazirah Arab

  • 06 Mar 2026 09:45 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Lidah buaya (Aloe vera) adalah tanaman yang telah digunakan selama ribuan tahun untuk mengobati berbagai macam penyakit dan meningkatkan kesehatan. Asal-usul tanaman ini berasal dari Jazirah Arab, tetapi sekarang telah menyebar ke seluruh dunia.

Sejarah Lidah Buaya, Lidah buaya telah digunakan oleh bangsa Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi untuk mengobati luka, peradangan, dan masalah kulit. Tanaman ini juga digunakan dalam pengobatan tradisional Cina dan India. Nama "Aloe vera" sendiri berasal dari bahasa Arab "Alloeh" yang berarti "zat pahit".

Selain Aloe vera, lidah buaya memiliki banyak nama ilmiah sinonim: A. barbadensis Mill., Aloe indica Royle, Aloe perfoliata L. var. vera and A. vulgaris Lam. Nama kedua (epitet spesifik) vera berasal dari bahasa Latin yang berarti "sungguhan" atau "asli". Beberapa literatur menyebut Aloe vera dengan bintik-bintik putih sebagai Aloe vera var. chinensis; terdapat juga pendapat bahwa Aloe vera berbintik tersebut masih satu spesies dengan A. massawana.

Deskripsi spesies lidah buaya pertama kali dibuat oleh Carolus Linnaeus pada 1753 dengan nama Aloe perfoliata var. vera. Deksripsi lidah buaya kemudian dibuat lagi oleh Nicolaas Laurens Burman dengan nama Aloe vera dalam Flora Indica pada 6 April 1768, dan sekali lagi oleh Philip Miller dengan nama Aloe barbadensis dalam Gardener's Dictionary sepuluh hari kemudian.

Dikutip dari wikipedia Indonesia, Lidah Buaya si Tanaman Serbaguna dari Jazirah Arab. Penelitian dengan teknik-teknik perbandingan DNA menunjukkan Aloe vera berkerabat relatif dekat dengan Aloe perryi, sebuah spesies endemik dari Yaman.

Perbandingan DNA lain dengan teknik perbandingan urutan DNA kloroplas dan pemrofilan mikrosatelit menunjukkan kekerabatan dekat dengan Aloe forbesii, Aloe inermis, Aloe scobinifolia, Aloe sinkatana, and Aloe striata. Kecuali A. striata yang berasal dari Afrika Selatan, spesies-spesies Aloe tersebut berasal dari Kepulauan Suquthra/Sokotra di Yaman, Somalia, serta Sudan. Akibat tidak jelasnya asal populasi alamiah dari lidah buaya, beberapa penulis berpendapat bahwa Aloe vera kemungkinan berasal dari hasil persilangan.

Persebaran lidah buaya dianggap sebagai spesies asli Jazirah Arab bagian barat daya. Namun, manusia telah menanamnya di berbagai belahan dunia, sehingga mengalami naturalisasi di berbagai tempat seperti Afrika Utara, Sudan dan negara-negara sekitarnya, Spanyol Selatan, Kepulauan Kanarias, Tanjung Verde, Kepulauan Madeira.

Spesies ini juga mulai dibudidayakan di Tiongkok dan Eropa bagian selatan sejak abad ke-17. Kini, tanaman ini banyak dibudidayakan di kawasan tropis dan subtropis, serta kawasan-kawasan kering di Benua Amerika, Asia, dan Australia.

Budidaya lidah buaya dalam skala besar terjadi di Australia, Bangladesh, Kuba, Republik Dominika, Tiongkok, Meksiko, India, Jamaika, Spanyol, Kenya, Tanzania, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat. Hasil pertanian lidah buaya banyak dijadikan bahan baku kosmetika.

Spesies ini juga banyak ditanam sebagai tanaman hias karena kekhasan bentuknya, bunganya, serta daunnya yang berdaging tebal. Selain itu, lidah buaya juga ditanam di kebun karena secara reputasinya sebagai tumbuhan obat. Karena daunnya yang tebal sehingga memudahkan menyimpan air, tanaman ini cocok untuk kebun-kebun di daerah bercurah hujan rendah.

Tanaman ini mampu hidup di zona 8 hingga 11 dalam sistem penomoran Kementerian Pertanian AS, tetapi tidak tahan jalad (embun beku) atau salju. Spesies ini memiliki ketahanan relatif tinggi terhadap kebanyakan hama serangga, tetapi rentan terganggu oleh kelompok Tetranychidae ("kutu laba-laba"), Pseudococcidae ("koya"), Coccoidea ("serangga sisik"), dan Aphidoidea ("kutu daun").

Jika ditanam dalam pot, lidah buaya membutuhkan tanah yang cukup kering dan berpasir serta cahaya matahari yang cukup. Tanaman Aloe dapat "terluka bakar" jika terkena matahari yang terlalu kuat dan dapat mengerut jika tanahnya terlalu lembap. Pot tanah liat (terakota) yang berpori dapat membantu menjaga tanah tetap kering. Penyiraman tanaman ini hanya disarankan setelah tanah sudah benar-benar kering.

Di dalam pot, tunas-tunas kecil dapat tumbuh di sekitar tanaman asli, dan dapat dipindahkan ke pot lain agar tanaman induknya memiliki ruang cukup untuk tumbuh dan untuk menghindari serangan hama. Pada negara dengan musim dingin, lidah buaya dapat berhenti tumbuh sementara saat suhu terlalu dingin, sehingga dibutuhkan tambahan kelembapan. Di daerah yang mengalami jalad atau salju, tanaman ini dapat disimpan dalam ruangan atau di rumah kaca yang dihangatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....