Apakah Skin Tag Berbahaya, Ini Fakta Medisnya

  • 05 Mar 2026 21:46 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Bagi sebagian orang, munculnya benjolan kecil menyerupai daging tumbuh di permukaan kulit sering kali memicu kekhawatiran akan gejala tumor atau kanker. Namun, secara medis, skin tag atau acrochordon bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan. Benjolan yang sering ditemukan di area leher dan ketiak ini bukanlah sel kanker, melainkan pertumbuhan kulit jinak yang terdiri dari serat kolagen dan pembuluh darah.

Fakta medis menunjukkan bahwa skin tag tidak memiliki sifat ganas. Mengutip laporan ilmiah dari National Institutes of Health (NIH), skin tag sama sekali tidak bersifat kanker (non-kanker) dan tidak akan berubah menjadi tumor ganas meskipun dibiarkan tanpa penanganan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, keberadaannya lebih sering dikategorikan sebagai masalah estetika atau kenyamanan, bukan ancaman kesehatan yang fatal.

Meski tergolong jinak, skin tag bisa memberikan rasa tidak nyaman jika tumbuh di area yang sering mengalami tekanan. Berdasarkan ulasan medis dari Mayo Clinic, rasa nyeri atau peradangan biasanya muncul hanya jika benjolan tersebut mengalami iritasi akibat gesekan konstan dengan kerah baju, perhiasan, atau saat tidak sengaja tergores saat mencukur. Jika tidak ada gangguan mekanis seperti itu, benjolan ini umumnya tidak menimbulkan gejala apa pun.

Satu hal yang perlu diwaspadai adalah kemiripan bentuk skin tag dengan kutil atau jenis tahi lalat tertentu. Berbeda dengan kutil yang disebabkan oleh virus (HPV) dan bersifat menular, skin tag tidak menular sama sekali. Merujuk pada data dari British Association of Dermatologists, sangat penting bagi masyarakat untuk tidak mendiagnosis diri sendiri, terutama jika benjolan tersebut mengalami perubahan warna yang drastis, berdarah tanpa sebab, atau tumbuh dengan sangat cepat.

Secara medis, faktor risiko munculnya skin tag juga sering dikaitkan dengan kondisi kesehatan metabolik. Penelitian dalam Journal of Clinical Medicine menunjukkan adanya korelasi antara kemunculan skin tag yang masif dengan resistensi insulin dan kadar kolesterol tinggi. Hal ini menandakan bahwa meski benjolannya tidak berbahaya, kemunculannya bisa menjadi "sinyal" bagi seseorang untuk mulai memeriksa pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

Lantas, perlukah skin tag dihilangkan? Para ahli kesehatan menyarankan tindakan medis hanya jika benjolan tersebut mengganggu aktivitas atau menurunkan kepercayaan diri. Sangat ditekankan untuk tidak melakukan upaya penghilangan secara mandiri di rumah. Prosedur bedah kecil atau cauter yang dilakukan oleh tenaga medis adalah standar keamanan untuk menghindari infeksi sekunder dan pendarahan yang sulit dihentikan.

Sebagai kesimpulan, masyarakat tidak perlu cemas berlebihan karena skin tag adalah kondisi kulit yang sangat umum dan normal terjadi seiring bertambahnya usia. Kunci utamanya adalah tetap memantau perubahan tekstur kulit dan selalu berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kesehatan kulit tetap terjaga. Pengetahuan yang tepat akan menjauhkan kita dari kepanikan yang tidak perlu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....