Fakta di Balik Susu Kental Manis

  • 20 Feb 2026 22:14 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru – Susu kental manis (SKM) masih kerap dipersepsikan sebagai sumber nutrisi utama bagi keluarga, terutama anak-anak. Padahal, produk ini sejatinya lebih tepat digunakan sebagai pelengkap sajian, bukan pengganti susu cair atau susu formula.

Kandungan gulanya yang tinggi membuat SKM berisiko menimbulkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan pentingnya membatasi asupan gula tambahan dalam konsumsi harian. Dalam berbagai kampanye edukasi gizi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan bahwa konsumsi gula berlebih berkontribusi terhadap peningkatan kasus obesitas, diabetes tipe 2, serta penyakit jantung.

Secara komposisi, susu kental manis memang mengandung energi, lemak, protein, serta sejumlah vitamin dan mineral. Namun, lebih dari separuh kandungannya merupakan gula.

Dalam 100 gram SKM, terdapat sekitar 320–340 kalori energi, 8–10 gram lemak, 7–8 gram protein, serta 55–60 gram karbohidrat yang didominasi gula. Kandungan kalsiumnya berkisar 200 miligram, tetapi jumlah tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak bila dijadikan sumber susu utama.

Ahli gizi menekankan SKM berbeda dengan susu segar atau susu pertumbuhan. Proses penambahan gula dalam jumlah tinggi bertujuan memberikan rasa manis sekaligus memperpanjang masa simpan. Karena itu, fungsi utamanya lebih sebagai topping atau campuran makanan dan minuman, seperti pelengkap kopi, teh, atau hidangan penutup.

Penggunaan SKM sebagai pengganti susu cair untuk anak dapat menimbulkan kekeliruan dalam pemenuhan nutrisi. Anak yang sedang dalam masa pertumbuhan membutuhkan asupan protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dalam komposisi seimbang. Ketidaktepatan memilih produk susu berpotensi menyebabkan kekurangan zat gizi tertentu, sekaligus meningkatkan risiko kelebihan gula.

Pemerintah melalui pedoman gizi seimbang juga menganjurkan pembatasan konsumsi gula maksimal 50 gram per hari atau setara empat sendok makan untuk orang dewasa. Angka ini sudah termasuk gula dari berbagai sumber makanan dan minuman, sehingga konsumsi SKM perlu diperhitungkan secara cermat.

Masyarakat diimbau untuk lebih teliti membaca label kemasan sebelum membeli produk olahan susu. Edukasi yang tepat mengenai perbedaan jenis susu menjadi langkah penting agar keluarga Indonesia dapat memenuhi kebutuhan gizi secara optimal tanpa meningkatkan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....