Mengenal Fast Fashion dan Risikonya

  • 16 Feb 2026 16:03 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Fast fashion merupakan istilah yang merujuk pada sistem produksi pakaian cepat, murah, dan mengikuti tren yang silih berganti. Model bisnis ini memungkinkan konsumen mendapatkan busana terbaru dalam waktu singkat, namun di balik kepraktisannya tersimpan risiko besar bagi lingkungan dan masyarakat.

Fenomena fast fashion kini menjadi sorotan global seiring meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Environment Programme (UNEP) menyatakan bahwa industri fesyen merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia, termasuk limbah air dan emisi karbon. Produksi tekstil skala besar membutuhkan air dalam jumlah masif serta bahan kimia yang berpotensi mencemari lingkungan sekitar.

Selain dampak lingkungan, fast fashion juga berkaitan erat dengan persoalan sosial dan ketenagakerjaan. International Labour Organization (ILO) mencatat bahwa sebagian pekerja garmen di negara berkembang masih menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, dan kondisi kerja yang tidak layak akibat tekanan produksi cepat dan murah dari pasar global.

Di sisi konsumsi, fast fashion mendorong pola belanja impulsif dan budaya pakai-buang. Laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyebutkan bahwa volume limbah tekstil global meningkat tajam karena pakaian fast fashion cenderung memiliki umur pakai yang singkat dan jarang didaur ulang secara optimal.

Dampak ini juga dirasakan oleh industri tekstil dalam negeri. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menegaskan membanjirnya produk fast fashion impor dapat melemahkan daya saing industri lokal, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah yang memproduksi pakaian secara lebih berkelanjutan.

Meski demikian, fast fashion tidak sepenuhnya dapat dihindari dalam sistem ekonomi modern. Para pakar menilai kunci utama terletak pada perubahan perilaku konsumen, seperti membeli sesuai kebutuhan, memilih kualitas dibanding kuantitas, serta mendukung merek yang menerapkan prinsip etis dan ramah lingkungan.

Dengan memahami risiko fast fashion, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam berbusana. Pilihan sederhana seperti merawat pakaian agar lebih awet atau menggunakan kembali busana lama dapat memberikan dampak positif yang signifikan. Pada akhirnya, gaya berpakaian yang bertanggung jawab bukan hanya soal tren, tetapi juga tentang kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....