Hari Bahasa Ibu Internasional 2026: Ketika sebuah bahasa punah

  • 15 Feb 2026 19:06 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Mengutip laman UNESCO, Tanggal 21 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Penetapan oleh UNESCO ini menjadi pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas, memori kolektif, dan jati diri sebuah bangsa.

Namun di tengah arus globalisasi yang kian deras, eksistensi bahasa ibu termasuk ratusan bahasa daerah di Indonesia menghadapi tantangan serius. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keragaman bahasa terbanyak di dunia.

Data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat terdapat lebih dari 700 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kekayaan ini menjadi kekuatan budaya nasional, sekaligus tanggung jawab besar dalam menjaga keberlangsungannya.

Namun sejumlah bahasa daerah kini berada dalam kondisi terancam punah. Laporan pemetaan vitalitas bahasa yang dirilis Badan Bahasa menunjukkan sebagian bahasa daerah mengalami penurunan jumlah penutur aktif, terutama di kalangan generasi muda. Urbanisasi, pernikahan antarsuku, dominasi bahasa nasional dan asing, serta minimnya transmisi bahasa dalam keluarga menjadi faktor utama penyebabnya.

Secara global, UNESCO dalam laporan World Atlas of Languages menegaskan bahwa setiap dua minggu satu bahasa di dunia hilang. Ketika sebuah bahasa punah, bukan hanya kosakata yang lenyap, tetapi juga pengetahuan lokal, nilai budaya, dan cara pandang masyarakat terhadap alam serta kehidupan.

Di Indonesia, upaya revitalisasi terus dilakukan. Pemerintah melalui program revitalisasi bahasa daerah mendorong penggunaan bahasa ibu di ruang pendidikan, dokumentasi kosakata, hingga pelibatan komunitas adat. Sejumlah daerah juga mulai memasukkan muatan lokal bahasa daerah dalam kurikulum sekolah sebagai langkah strategis menjaga kesinambungan antargenerasi.

Para akademisi menilai pelestarian bahasa ibu tidak cukup hanya melalui kebijakan formal. Peran keluarga menjadi kunci utama. Bahasa ibu harus tetap digunakan dalam percakapan sehari-hari agar anak-anak tumbuh dengan kebanggaan terhadap identitas budayanya. Komunitas budaya dan media lokal, termasuk radio, juga memiliki peran penting dalam menghadirkan ruang siar berbahasa daerah sebagai bentuk afirmasi eksistensi bahasa ibu.

Hari Bahasa Ibu Internasional bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini menjadi refleksi bersama bahwa keberagaman bahasa adalah aset peradaban. Menjaga bahasa ibu berarti menjaga warisan budaya, memperkuat identitas, dan merawat kebhinekaan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....