Lukah, Penangkap Ikan Pelindung Habitat Sungai
- 11 Feb 2026 18:07 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di sejumlah daerah di Indonesia, menangkap udang di sungai masih dilakukan dengan cara tradisional. Salah satu alat yang digunakan adalah lukah.
Bentuknya sederhana, biasanya terbuat dari anyaman bambu atau rotan, dengan bagian mulut berbentuk corong agar udang bisa masuk tapi sulit keluar. Meski terlihat kuno, alat ini masih dipakai karena ramah lingkungan dan efektif.
Disadur dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (kkp.go.id) – informasi tentang praktik penangkapan ikan ramah lingkungan, lukah biasanya dipasang di aliran sungai yang tenang atau di tepi sungai yang banyak tumbuhan airnya. Nelayan tradisional akan meletakkan umpan di dalamnya, lalu membiarkannya semalaman.
Keesokan paginya, lukah diangkat dan hasil tangkapan diperiksa. Cara ini tidak merusak habitat sungai karena tidak menggunakan bahan kimia atau alat setrum yang berbahaya.
Bagi masyarakat setempat, lukah bukan sekadar alat tangkap. Ia juga bagian dari tradisi turun-temurun.
Anak-anak sering belajar dari orang tua mereka cara memasang lukah, memilih lokasi yang tepat, hingga mengenali arus sungai. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dan menjadi bagian dari kearifan lokal yang patut dijaga.
Di tengah perkembangan alat tangkap modern, penggunaan lukah memang mulai berkurang. Banyak nelayan beralih ke alat yang dianggap lebih cepat menghasilkan tangkapan banyak. Namun, para pemerhati lingkungan menilai metode tradisional seperti lukah justru lebih berkelanjutan karena menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
Melestarikan penggunaan lukah berarti juga menjaga tradisi dan lingkungan. Di saat isu kerusakan sungai semakin sering terdengar, praktik sederhana seperti ini bisa menjadi contoh bahwa cara lama tak selalu kalah oleh teknologi. Justru dari kearifan lokal, kita bisa belajar tentang harmoni antara manusia dan alam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....