Parut Kelapa yang Terlupa

  • 10 Feb 2026 21:20 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Alat parut kelapa tradisional kini semakin jarang ditemui di dapur rumah tangga. Alat sederhana berbahan kayu dan besi bergerigi ini dulu hampir selalu ada di rumah, terutama di kampung, namun seiring waktu, keberadaannya perlahan tergeser oleh alat parut modern dan mesin listrik.

Disadur dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Warisan Budaya Takbenda Indonesia (kebudayaan.kemdikbud.go.id), parut kelapa tradisional biasanya digunakan dengan cara duduk, lalu kelapa digosokkan langsung ke mata parut. Meski terlihat sederhana, alat ini butuh keterampilan dan kehati-hatian. Banyak orang tua dulu terbiasa memakainya sambil berbincang santai, menjadikannya bagian dari aktivitas dapur yang hangat.

Masuknya teknologi dapur modern membuat banyak orang beralih ke cara yang lebih cepat dan praktis. Mesin parut listrik dianggap lebih efisien, apalagi untuk kebutuhan besar. Akibatnya, parut kelapa tradisional mulai ditinggalkan dan hanya tersisa di rumah-rumah tertentu.

Padahal, alat tradisional ini punya nilai budaya yang kuat. Ia menjadi simbol kearifan lokal dan gaya hidup sederhana. Selain itu, penggunaan parut manual juga tidak membutuhkan listrik dan lebih ramah lingkungan, sesuatu yang kini kembali diperhatikan banyak orang.

Beberapa komunitas dan pelaku kuliner tradisional mulai berupaya mengenalkan kembali alat ini. Parut kelapa tradisional sering dipakai dalam kegiatan budaya, lomba masak tradisional, hingga edukasi anak-anak agar mengenal alat dapur warisan leluhur.

Keberadaan parut kelapa tradisional mungkin sudah jarang, tapi nilainya tidak seharusnya hilang. Dengan menjaga dan mengenalnya kembali, kita ikut merawat jejak budaya yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....