Filosofi Barongsai Melampaui Tarian Perayaan Imlek

  • 07 Feb 2026 13:52 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Barongsai bukan sekadar tontonan meriah dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Di balik gerak lincah dua singa yang menari diiringi tabuhan drum dan simbal, tersimpan filosofi, nilai religius, serta perjalanan panjang akulturasi budaya yang kini menjadi bagian dari kekayaan seni pertunjukan Indonesia.

Setiap perayaan Imlek, pusat perbelanjaan dan ruang publik di berbagai kota di Indonesia kerap diramaikan atraksi barongsai. Sepasang singa menari atraktif satu singa memainkan kepala dengan gerakan melonjak-lonjak, sementara singa lainnya bergerak dinamis dengan empat kaki, sesekali berdiri tegak dengan dua kaki. Iringan musik tradisional Tiongkok yang ritmis membuat suasana semakin hidup dan membangkitkan antusiasme penonton.

Menurut laman Indonesiakaya.com, Barongsai merupakan tarian tradisional Tiongkok yang menggunakan kostum menyerupai singa. Bagi sebagian orang yang menyaksikannya untuk pertama kali, kesenian ini kerap disalahartikan sebagai tarian naga. Padahal, barongsai dikenal sebagai tarian singa dan memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari tarian naga (lion dance dan dragon dance).

Dalam tradisi Tiongkok, barongsai terbagi ke dalam dua aliran utama, yakni barongsai utara dan selatan. Barongsai utara umumnya memiliki surai ikal dan empat kaki, dengan gerakan yang menyerupai singa asli. Sementara itu, barongsai selatan dikenal lebih ekspresif dan lincah, memiliki sisik dekoratif, jumlah kaki dua atau empat, serta dilengkapi tanduk sebagai simbol kekuatan dan keberanian.

Sebelum atraksi dimulai, terdapat serangkaian ritual yang wajib dilakukan oleh kelompok barongsai dan para pemainnya. Ritual ini bertujuan memohon kelancaran pertunjukan, keselamatan pemain, serta menghadirkan restu para dewa. Dalam konteks ini, barongsai bukan sekadar hiburan, melainkan memiliki makna religius sebagai penghubung manusia dengan alam gaib.

Secara historis, barongsai merupakan bentuk tari ritual sakral yang hanya ditampilkan pada waktu dan tujuan tertentu, seperti upacara keagamaan, penolak bala, atau perayaan penting. Filosofi ini menjadikan barongsai sebagai simbol harapan akan keberuntungan, kesejahteraan, dan keharmonisan hidup.

Masuk ke Indonesia sejak abad ke-17 bersama kedatangan masyarakat Tionghoa, barongsai mengalami proses adaptasi dan perkembangan. Seiring waktu, kesenian ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi etnis Tionghoa, tetapi juga berkembang sebagai seni pertunjukan modern dan cabang olahraga prestasi.

Menariknya, barongsai kini diminati oleh berbagai kalangan lintas etnis, termasuk Jawa dan Sunda. Hal ini menegaskan bahwa barongsai telah menjadi ruang perjumpaan budaya yang inklusif.

Perkembangan tersebut diperkuat dengan berdirinya Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) yang telah diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Melalui pembinaan yang terstruktur, atlet-atlet barongsai Indonesia bahkan telah menorehkan prestasi di tingkat internasional dan beberapa kali meraih gelar juara dunia, sekaligus mengharumkan nama bangsa.

Dari ritual sakral hingga arena olahraga dunia, barongsai menunjukkan bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan dan berkembang mengikuti zaman. Lebih dari sekadar tarian perayaan Imlek, barongsai adalah simbol akulturasi, spiritualitas, dan prestasi budaya Indonesia di mata dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....