Menyimak Suara Hutan: Teknologi Sensor Penjaga Paru Dunia

  • 28 Jan 2026 16:36 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, PEKANBARU – Indonesia mulai mengembangkan purwarupa teknologi Internet of Forest Things (IoFT) berbasis sensor akustik ultrasonik untuk memantau aktivitas ilegal di hutan lindung secara real-time. Teknologi ini diklaim mampu mendeteksi frekuensi suara yang tidak tertangkap oleh pendengaran manusia, menjadikannya benteng pertahanan baru bagi kelestarian alam nusantara, sebagaimana dikutip dari Rainforest Connection (RFCx): Organisasi yang memelopori penggunaan sensor suara (akustik) dari ponsel bekas untuk mendeteksi pembalakan liar di hutan hujan dunia.

Berbeda dengan sistem pemantauan berbasis satelit yang sering terhambat tutupan awan tebal di wilayah tropis, sensor akustik ini bekerja di bawah kanopi hutan. Perangkat yang dipasang pada batang pohon ini mampu menangkap getaran suara mesin gergaji mesin (chainsaw) hingga frekuensi ultrasonik yang dihasilkan oleh pergeseran struktur tanah sebelum terjadi longsor.

Data suara yang tertangkap kemudian diolah menggunakan kecerdasan buatan untuk membedakan antara suara alami hutan dengan suara aktivitas manusia. Jika terdeteksi adanya aktivitas mencurigakan, sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal peringatan kepada petugas jagawana terdekat melalui jaringan radio frekuensi rendah.

Penggunaan teknologi ini menjadi krusial karena selama ini respons terhadap pembalakan liar seringkali terlambat akibat luasnya medan yang harus diawasi. Dengan sensor akustik, intervensi dapat dilakukan tepat saat aktivitas penebangan dimulai, bukan setelah lahan gundul terpantau satelit.

Selain pengamanan, teknologi ini juga digunakan oleh para peneliti untuk memantau populasi satwa langka yang bersifat pemalu atau nokturnal. Suara-suara unik dari fauna yang jarang terlihat dapat terekam dan menjadi data penting dalam memetakan ekosistem hutan yang masih sehat.

Meskipun tantangan utama terletak pada ketahanan daya baterai dan jangkauan sinyal di medan berat, pengembangan inovasi ini menandai babak baru digitalisasi konservasi di Indonesia. Harapannya, teknologi bukan sekadar menjadi alat industri, tetapi menjadi telinga bagi hutan yang selama ini tidak terdengar suaranya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....