Prospek Budi Daya Buah Matoa di Indonesia
- 29 Des 2025 09:53 WIB
- Pekanbaru
KBRN, Pekanbaru : Buah matoa (Pometia pinnata) merupakan tanaman buah asli Indonesia yang banyak ditemukan di wilayah Papua, Maluku dan sebagian Sulawesi. Matoa dikenal memiliki rasa manis legit dengan perpaduan cita rasa rambutan, lengkeng, dan durian.
Dikutip dari sumber Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) tentang Referensi teknik perbanyakan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman buah tropis termasuk matoa, selain digemari masyarakat lokal, buah ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Tanaman matoa termasuk pohon besar yang dapat tumbuh hingga ketinggian 18–40 meter. Daunnya majemuk, berbentuk lonjong, dan berwarna hijau tua. Buah matoa berbentuk bulat hingga lonjong, berkulit licin berwarna hijau kekuningan atau merah saat matang, dengan daging buah putih bening yang manis dan aromatik.
Matoa tumbuh optimal di daerah yang beriklim tropis dengan karakteristik mencapai ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini cocok dibudidayakan di berbagai wilayah Indonesia yang memiliki kondisi agroklimat tropis. Budi daya matoa dapat dilakukan melalui dua metode yakni Generatif (biji) yang mudah dilakukan, tetapi waktu berbuah relatif lama, sekitar 8–10 tahun.
Selain itu dapat juga dilakukan dengan cara Vegetatif (cangkok, okulasi, atau sambung pucuk), metode ini lebih disarankan karena tanaman dapat berbuah lebih cepat, sekitar 4–6 tahun, serta sifat unggul indukan dapat dipertahankan. Lubang tanam sebaiknya dibuat dengan ukuran sekitar 60 × 60 × 60 cm dan dibiarkan selama 1–2 minggu.
Tanah galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebelum bibit ditanam. Jarak tanam ideal untuk kebun matoa adalah sekitar 8 × 8 meter agar pertumbuhan pohon optimal. Pemeliharaan tanaman matoa meliputi penyiraman, pemupukan berkala dan pemangkasan.
Buah matoa umumnya mulai berbuah pada umur 4–6 tahun (vegetatif). Panen dilakukan saat buah telah matang ditandai dengan perubahan warna kulit dan aroma khas. Buah dipanen dengan cara dipetik bersama tangkainya untuk menjaga kualitas. Pascapanen meliputi sortasi, pembersihan, dan pengemasan agar buah tetap segar saat dipasarkan.
Permintaan buah matoa terus meningkat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap buah lokal bernilai gizi tinggi. Selain dikonsumsi segar, matoa juga berpotensi diolah menjadi jus, sirup, dan produk olahan lainnya. Dengan pengelolaan yang baik, budi daya buah matoa dapat menjadi peluang usaha agribisnis yang menjanjikan di Indonesia.
Budi daya buah matoa di Indonesia memiliki prospek cerah karena didukung oleh kondisi alam yang sesuai dan potensi pasar yang luas. Dengan penerapan teknik budi daya yang tepat, tanaman matoa dapat menjadi salah satu komoditas unggulan buah lokal yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....