Hari Raya Galungan, Perayaan Kemenangan Dharma atas Adharma
- 19 Nov 2025 09:27 WIB
- Pekanbaru
KBRN, Pekanbaru: Hari Raya Galungan, sering juga disebut “gayungan” merupakan salah satu perayaan paling sakral dan bermakna dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali. Perayaan ini melambangkan kemenangan Dharma (kebaikan, kebenaran) atas Adharma (kejahatan, kezaliman), sekaligus memperkuat ikatan rohani antara umat manusia dengan leluhur dan Tuhan.
Dilansirdari laman Bimas Hindu Kementerian Agama, secara etimologi kata Galungan berarti “bertemu” atau “bersatu”. Makna ini sangat dalam: peringatan Galungan menggambarkan persatuan kekuatan rohani dalam diri umat manusia untuk mewujudkan kemenangan kebaikan.
Salah satu aspek penting Galungan adalah keyakinan bahwa pada hari ini, para leluhur (pitara) turun ke bumi untuk memberikan berkat dan perlindungan kepada keturunan mereka.
Rangkaian Galungan dimulai dari Penampahan Galungan sehari sebelum puncak hari raya. Pada hari ini, umat melakukan penyembelihan hewan sebagai simbol pengendalian diri terhadap sifat-sifat buruk dalam diri.
Pada puncak hari raya, umat Hindu mengenakan pakaian adat, melakukan sembahyang di pura keluarga maupun pura umum, serta menghaturkan sesajen sebagai rasa syukur dan penghormatan. Di rumah, terlihat hiasan bamboo tinggi bernama penjor, melambangkan kemakmuran dan rasa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sepuluh hari setelah Galungan, umat merayakan Hari Raya Kuningan, di mana leluhur diyakini kembali ke kahyangan (alam roh). Hari Kuningan juga dipenuhi makna simbolis, seperti permohonan perlindungan dan rasa syukur.
Melalui tradisi menghias penjor, sembahyang bersama, dan persembahan khas, Galungan juga menjadi momen penegasan identitas agama dan budaya Hindu Bali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....