Proses Neurologis Terjadinya Overthinking dalam Tubuh

  • 17 Okt 2025 10:15 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru : Fenomena Overhinking seringkali menjadi bahasan dalam dunia psikologi. Dari kajian bahasa, defenisi Overthinking merupakan berlebihan berpikir, yang menyebabkan rasa tidak nyaman.

Ternyata, dibalik perasaan Overthinking ada proses neurologis kompleks yang terjadi di baliknya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang terjebak dalam pola berpikir berlebihan, beberapa bagian utama otak bekerja lebih keras dari biasanya.

Dikutip dari laman neurolaunch.com salah satu bagian otak yang paling aktif saat overthinking adalah korteks prefrontal, pusat kendali otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian perilaku. Dalam kondisi normal, area ini membantu manusia berpikir logis dan rasional. Namun, ketika seseorang terlalu banyak merenung, korteks prefrontal justru “kelebihan beban” karena terus-menerus menganalisis dan menimbang berbagai kemungkinan tanpa henti.

“ketika seseorang mengalami Overthinking, berarti keterlibatan korteks prefrontal itu tinggi. Sehingga sesuatu yang gak perlu dipikirkan akan berlebihan di pikirkan,” jelas Elyusra Ulfah, Psikolog yang merupakan Dosen Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau dalam Program Spada di Programa 2 RRI Pekanbaru, Selasa (14/10/2025).

Proses dilanjutkan pada bagian otak yang bernama amigdala yang merupakan pusat emosi manusia, akan muncul. Ketika seseorang mengalami Overthinking, maka amigdala aktif secara berlebihan, dan akan mengalami cemas berlebihan.

Akibatnya, tubuh merespons dengan meningkatkan kewaspadaan dan kecemasan, seolah menghadapi bahaya yang harus dihindari. Selain itu, bagian otak lain yang ikut berperan adalah Hipotalamus.

"Hipotalamus ini berfungsi untuk mengatur hormon dalam tubuh kita. Ketika mengalami Overthinking, maka hormon stress atau kortisol akan meningkat, jika hormon stres meningkat, jadi ya semakin banyak hormon ini meningkat, ya akan bertambah stress-nya," lanjut Elyusra.

Hipotalamus ini juga sering kali menggali kembali kenangan lama atau membayangkan skenario masa depan yang belum tentu terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang overthinking cenderung mengulang-ulang peristiwa masa lalu atau terus memikirkan kemungkinan terburuk di masa depan.

Proses neurologis Overthinking juga terjadi pada interaksi sitem saraf otonom (yang mengatur sistem saraf secara tidak disadari).

"Itu kan tanpa kita sadari, sistem saraf itu tetap bekerja. Ketika seorang individu Overthinking, maka sistem saraf otonom ya akan semakin aktif, yang menyebabkan detak jantung bertambah kencang dan bisa menyebabkan sesak napas. Jika setiap hari Overthinking, maka tubuh akan mengalami kelelahan," lanjutnya.

Kombinasi dari faktor-faktor inilah yang membuat pikiran terasa berputar tanpa henti. Para ahli menyebut, perbedaan utama antara berpikir normal dan overthinking dapat diibaratkan seperti aliran sungai.

Pikiran normal mengalir tenang, membantu seseorang memproses informasi dan mengambil keputusan dengan jernih. Namun, ketika overthinking terjadi, arus pikiran menjadi deras dan kacau, menyeret seseorang jauh dari ketenangan hingga sulit menemukan tepi resolusi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....