Palang Merah Indonesia: Sejarah, Dedikasi, dan Kemanusiaan Abadi

  • 16 Sep 2025 19:42 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru : Bayangkan dunia tanpa tangan-tangan penuh kasih yang siap menolong di saat genting. Di tengah bencana, konflik, dan krisis kemanusiaan, hadir sosok-sosok luar biasa yang bekerja tanpa pamrih demi menyelamatkan nyawa.

Mereka adalah bagian dari Palang Merah Indonesia (PMI), organisasi kemanusiaan yang sejak awal berdirinya telah menjadi garda terdepan dalam membantu sesama. Setiap tanggal 17 September, kita memperingati Hari PMI, momentum untuk mengenang sejarah perjuangan dan mengapresiasi dedikasi yang tak lekang oleh waktu.

Menurut Wikipedia Indonesia, “Palang Merah Indonesia (PMI) adalah organisasi kemanusiaan di Indonesia. Organisasi ini merupakan anggota Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.”

Berdirinya gerakan Palang Merah di Indonesia sebenarnya telah dimulai jauh sebelum kemerdekaan, tepatnya pada 12 Oktober 1873. Saat itu, Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI). Namun, organisasi ini kemudian dibubarkan pada masa pendudukan Jepang.

Setelah proklamasi kemerdekaan, gagasan untuk membentuk Palang Merah Indonesia digagas oleh Dr. R. C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan. Presiden Soekarno pada 3 September 1945 memerintahkan Menteri Kesehatan Kabinet I, Dr. Boentaran, untuk segera membentuk badan Palang Merah Nasional. Panitia lima orang Dr. R. Mochtar sebagai Ketua, Dr. Bahder Djohan sebagai Penulis, dan anggota Dr. R. M. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, serta Dr. Sitanala kemudian mempersiapkan segala sesuatu hingga PMI resmi berdiri pada 17 September 1945. Tanggal ini kini kita kenal sebagai Hari PMI.

Selama hampir delapan dekade, PMI terus menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Melalui berbagai program, seperti Strategi 2010 yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat rentan, promosi prinsip kemanusiaan, penanggulangan bencana, hingga kesehatan masyarakat, PMI selalu hadir di garis depan.

Selain itu, Deklarasi Hanoi (United for Action) menegaskan peran PMI dalam menghadapi isu-isu global, mulai dari bencana alam, wabah penyakit, hingga dukungan bagi remaja dan manula. Plan of Action hasil Konferensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-27 di Jenewa, Swiss, tahun 1999, memperkuat kemitraan PMI dengan pemerintah, organisasi lain, dan masyarakat untuk memperluas jangkauan bantuan kemanusiaan.

Di setiap bencana yang melanda tanah air banjir, gempa bumi, kebakaran hutan, hingga pandemi PMI selalu hadir memberikan pertolongan pertama, layanan kesehatan, dan bantuan logistik. Dedikasi relawan-relawan PMI adalah teladan tentang kepedulian sosial yang patut diteladani.

Memperingati Hari PMI pada 17 September bukan sekadar mengenang sejarah berdirinya organisasi ini, tetapi juga mengingatkan kita semua akan pentingnya semangat kemanusiaan. Di tengah tantangan zaman, peran PMI adalah pengingat bahwa nilai tolong-menolong dan solidaritas adalah kekuatan besar yang dapat menyatukan bangsa.

Mari jadikan peringatan Hari PMI tahun ini sebagai momen untuk berterima kasih kepada para relawan dan mendukung upaya kemanusiaan yang mereka jalankan. Sebab, di setiap tetes darah yang disumbangkan, di setiap bantuan yang disalurkan, dan di setiap nyawa yang terselamatkan, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: kemanusiaan adalah warisan abadi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....