Pujianto Tuliskan Hikmah dan Tujuan Ibadah Haji
- 17 Jun 2025 08:45 WIB
- Pekanbaru
KBRN, Pekanbaru: Pembimbing Ibadah Kloter BTH-03 Tahun 2025, H.Pujianto, S,Ag yang bertugas pada musim haji 1446 H / 2025 M, secara khusus menulis perjalanan regili saat menjadi petugas yang diberi judul "Hikmah dan Tujuan Ibadah Haji". Tulisannya diselesaikan setelah tiba di tanah air dan berkumpul bersama keluarga. Pujianto selaku ASN Penghulu KUA Tenayan Raya, Pekanbaru dalam tulisannya yang dikirimkan ke RRI, Senin (16/6/2025) menguraikan secara rinci dan jelas.
Pujianto menjelaskan bahwa tujuan diwajibkannya haji adalah memenuhi panggilan Allah untuk memperingati serangkaian kegiatan yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim sebagai penggegas syariat Islam. Kisah Nabi Ibrahim sehubungan dengan ini dikatakan dalam al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 37, Allah Swt. berfirman: رَبَّنَاۤ اِنِّيْۤ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ ۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوْا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْۤ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ .Artinya: “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 37).
Keinginan Nabi Ibrahim itu ditanggapi Allah dengan menyuruh orang-orang untuk menziarahi tempat Nabi Ibrahim tersebut dengan firman-Nya dalam al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 27:
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ . Artinya: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj [22]: 27).
Tujuan haji adalah agar setiap umat Islam mengerjakan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Beberapa ayat al-Qur’an telah menjelaskan tentang ibadah haji:
Pertama, Haji sebagai puncak ekspresi ketakwaan. Rangkaian ibadah haji yang dimulai dari ihram kemudian thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, melempar jumrah, sampai menyembelih hewan kurban adalah ekspresi ketakwaan hamba-Nya. Ukuran-ukuran fisik menjadi simbol yang bisa sirna jika tidak berakar pada ketakwaan. Semua jerih payah juga akan buyar begitu saja jika tidak melahirkan ketakwaan kepada Allah. Karena itu Allah berfirman dalam al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 37: لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُـوْمُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلٰـكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَـكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ. Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj [22]: 37).
Kedua, Totalitas penyembahan paripurna. Ibadah haji merupakan ibadah yang menuntut adanya kesiapan organisasi dan manajemen diri. Penziarah tidak bisa meninggalkan satu bagian ibadah haji karena dapat membatalkan hajinya. Para jamaah haji dituntun untuk berkosentrasi penuh baik secara fisik maupun mental, baik secara keuangan maupun kemampuan di lapangan.
Ketiga, perjalanan penuh zikir dan syukur. Islam telah membuat beberapa aturan guna menguatkan rasa persatuan sesama umat. Dalam hal ini haji telah mampu menyatukan umat dari berbagai pelosok dengan tidak memandang bangsa dan warna kulit.
Mereka hendaklah berpakaian sama, berkumpul dalam satu tempat, yaitu di padang Arafah dan Mina, dengan tidak membedakan kaya dan miskin, mulia dan hina, raja dan hamba. Dalam pertemuan yang amat besar itu dapatlah mereka berkenalan satu sama lain, dan bertambah teguhlah persatuan dan perasaan saling mempercayai.
Keempat, Menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah. Pada saat melaksanakan ibadah haji, akan dialami banyak keajaiban sebesar keikhlasan hati penziarah dalam beribadah. Oleh karena itu, Allah akan memperlihatkan keagungan dan tanda-tanda kemenangan padanya. Banyak tanda-tanda yang Allah perlihatkan salah satunya adalah makam Nabi Ibrahim As. Allah berfirman dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 97: فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ. Artinya: “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran [3]: 97).
Kelima, Masa penempaan diri. Ibadah haji mengajarkan bagaimana keimanan berbuah pada perbuatan dan perilaku. Ibadah haji juga menunjukkan bahwa meraih keridhaan Allah tidak cukup dengan konsep saja tetapi harus dicapai dengan usaha nyata. Kesulitan dalam melaksanakan ibadah haji bukanlah kebetulan. Semua bertujuan pada pembinaan pribadi. Yang dapat menahan hawa nafsu adalah yang paling berhasil dalam penempaan diri ini. Yang paling bersabar adalah yang mendapatkan penghargaan dari Ilahi dan sertifikat samawi. Rasulullah saw. bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: «مَنْ حَجَّ لِلهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ». [صحيح] – [متفق عليه]. Artinya: “Abu Hurairah Ra. berkata, aku mendengar Nabi Saw. bersabda, “Siapa pun yang menunaikan ibadah haji tanpa berbuat keji dan bertindak fasik, maka ia pulang (tanpa dosa) seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.” (Hadis shahih-Muttafaq alaih).
Keenam, meraih mukjizat zamzam. Diantara bukti kekuasaan Allah adalah air zamzam yang memiliki banyak keajaiban. Mulai dari keberadaannya, kandungannya dan khasiatnya. Pada zaman teknologi saat ini, berbagai penelitian ilmiah semakin menguatkan bahwa air zamzam memang bukan air biasa.
Ketujuh, mendapatkan manfaat tanpa batas. Allah berfirman dalam al-Qur’an bahwa momen haji adalah momen manfaat tanpa batas. Allah berfirman dalam al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 28:
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْۤ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ ۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْـرَ . Artinya: “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj [22]: 28).
Manfaat-manfaat yang terdapat dalam ibadah haji begitu banyak dan tidak terbatas. Tidak hanya terbatas pada manfaat keagamaan dan keimanan, tapi juga manfaat keduniaan dan materi. Dalam ibadah haji, Allah membolehkan jamaah haji menggabungkan tujuan akhirat dan kepentingan duniawi. Setiap ibadah yang disyariatkan oleh Allah mengandung hikmah tersendiri. Allah tidak sekalipun memerintah manusia melakukan suatu perbuatan yang tidak bermanfaat atau tidak mengandung hikmah. Termasuk di antara hikmah yang bisa kita petik dari pelaksanaan ibadah haji yaitu:
Pertama, kepatuhan dan penyerahan kepada Allah semata. Hikmah utama dari ibadah haji adalah sebagai bentuk kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah. Ketika Allah memanggil umat Islam, maka mereka bersegera memenuhi panggilan tersebut walaupun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, meluangkan waktu yang sangat berharga dan meninggalkan keluarga dan harta benda. Sehingga seorang haji akan selalu siap bila Allah memerintahkannya menjalankan tugas luhur dari Allah karena untuk memenuhi tugas yang sulit pun bersedia datang memenuhi panggilannya.
"Kedua, motivasi peningkatan diri. Ibadah haji akan menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki diri. Seseorang yang bergelimang dosa, sering putus asa dengan dosa-dosanya sehingga sering merasa sudah terlanjur dengan dosanya. Adanya jaminan Allah bahwa haji akan menghapus dosa, seolah-olah kita disegarkan kembali, sehingga akan termotivasi untuk menjaga diri agar tidak membuat dosa lagi. Tak terkecuali bisa menghapus dosa-dosa kecil," urainya.
Ibadah haji merupakan ibadah badaniyah yang memerlukan ketangguhan fisik dan ketahanan mental. Hal ini menunjukan bahwa ibadah haji dapat memperkuat kesabaran dan ketahanan fisik seseorang. Jadi semua yang Allah perintahkan ada tujuan dan hikmahnya. Balasan yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya, perbuatan baik maupun buruk akan mendapatkan balasannya. Begitu juga dengan melaksanakan ibadah haji akan mendapatkan pahala.
"Akhirnya, mari kita doakan semoga yang melakukan haji pada bulan ini mendapat predikat haji mabrur. Dan kita yang belum haji, semoga tahun depan dengan pertolongan Allah bisa berhaji. Amin," ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....