Kisah Pilu Ibu dan Balita Gagal Berangkat ke Malaysia Secara Ilegal di Dumai
- 25 Apr 2026 16:21 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Dumai – Upaya keberangkatan pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal kembali digagalkan aparat Polres Dumai. Di balik penindakan itu, tersimpan kisah pilu seorang ibu muda berinisial AK (32) yang nekat membawa anak balitanya demi mencari penghidupan lebih baik di Malaysia.
AK diamankan bersama anak keduanya, ADY, yang masih berusia 2,5 tahun saat hendak berangkat. Ia mengaku keputusan itu diambil karena desakan ekonomi dan keinginan membantu suami yang telah lebih dulu bekerja di Malaysia.
Perjalanan ini bukan tanpa pengorbanan besar bagi AK. Ia mengumpulkan biaya keberangkatan dari bantuan keluarga sebesar Rp6 juta dan kiriman suaminya senilai Rp10 juta.
“Rencananya, AK akan menetap di Malaysia selama dua tahun. Ia berharap bisa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga sekaligus menambah biaya pendidikan anak pertamanya,” kata Kapolres Dumai, AKBP Angga F Herlambang, Sabtu 25 April 2026.
Anak pertama AK, berinisial AD (8), saat ini duduk di kelas 2 SD. Ia terpaksa dititipkan kepada sang nenek di Desa Benjeruk, Lombok Tengah, demi memberi kesempatan ibunya mencari nafkah di luar negeri.
Suami AK sendiri diketahui telah lebih dulu bekerja di Malaysia melalui jalur resmi dari Batam. Namun, berbeda dengan suaminya, AK memilih jalur ilegal karena tidak memahami prosedur resmi dan tergiur proses yang lebih cepat.
“Saya tidak tahu cara berangkat resmi, yang penting cepat sampai dan bisa kerja,” ungkapnya lirih kepada Kapolres.
Keputusan itu justru berujung penangkapan sebelum sempat menyeberang. Kini, AK harus menunda harapannya untuk berkumpul kembali dengan suami dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa praktik pengiriman PMI ilegal sangat berisiko, terutama bagi perempuan dan anak. Selain melanggar hukum, jalur ilegal juga rentan terhadap eksploitasi dan perdagangan manusia.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka penindakan, ada cerita keluarga yang terhimpit keadaan. Harapan untuk hidup lebih baik sering kali mendorong langkah nekat, meski harus mempertaruhkan keselamatan diri dan anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....