The Power of Personal Branding: Jadi Diri Sendiri di Dunia Nyata dan Media Sosial
- 13 Agt 2026 14:03 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di era media sosial, personal branding menjadi bagian penting bagi anak muda untuk memperkenalkan karakter, kemampuan, hingga potensi yang dimiliki. Personal branding tidak hanya dibutuhkan oleh figur publik, tetapi juga dapat menjadi modal bagi generasi muda untuk membangun karier, bisnis, maupun membuka peluang kolaborasi.
Dalam obrolan Sore Ceria di Programa 2 RRI Pekanbaru, Selasa 11 Agustus 2026, Sanlivka Nerazzurri Biva (Runner Up 1 Putri Khatulistiwa Indonesia 2026) & Zaskia Sekar Ramadani (Winner Miss Beauty Remaja Kab. Siak 2026) menceritakan tentang Personal Branding yang sedang mereka bangun.
"Personal Branding di dunia nyata dan media sosial harus beriringan. Jadi, gak perlu jadi pribadi yang beda cuma demi membangun citra tertentu di media sosial. Kalo apa yang ditampilkan di media sosial terlalu jauh berbeda dengan kehidupan nyata, orang lain justru dapat merasa bahwa personal branding tersebut kurang autentik," jelas Zaskia Sekar Ramadani.
Sementara itu, Sanlivka Nerazzurri Biva yang sering disapa Oliv memiliki pandangan bahwa perbedaan antara media sosial dan kehidupan nyata masih dapat diterima selama tidak membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Misalnya, seseorang dapat menampilkan kesan elegan di media sosial, tetapi memiliki karakter yang lebih ceria dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hal yang penting adalah tetap ada identitas yang konsisten, terutama dalam hal penampilan, kemampuan, dan nilai yang ingin ditampilkan kepada orang lain.
"Personal branding yang ingin ditonjolkan ada penampilan, kemampuan dan berbagai aktivitas sama ada bisnis yang lagi dijalani," ungkap Sanlivka Nerazzurri Biva.
Bagi Olive, personal branding yang ingin ditonjolkan adalah penampilan, kemampuan, serta berbagai aktivitas dan bisnis yang dijalani. Ia ingin orang yang melihat media sosialnya dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki sekaligus melihat peluang untuk bekerja sama. Sementara Zaskia ingin menonjolkan kemampuan public speaking dan kepercayaan diri. Ia juga ingin dikenal sebagai sosok yang dapat membantu orang lain untuk lebih percaya diri dan berani menunjukkan kemampuan mereka.
Keduanya juga membahas anggapan personal branding sering dianggap sebagai pencitraan. Menurut Olive, penilaian tersebut merupakan opini masing-masing orang. Seseorang tentu memiliki hak untuk menampilkan sisi terbaik dirinya di media sosial. Namun, komentar juga tetap harus disampaikan dengan bijak dan memiliki batas. Personal branding seharusnya tidak menjadi alasan untuk menyerang atau merendahkan seseorang secara langsung.
Pada akhirnya, membangun personal branding bukan berarti menciptakan sosok baru agar disukai orang lain. Personal branding justru menjadi proses untuk mengenali kelebihan diri, mengembangkan kemampuan, dan menunjukkan karakter secara konsisten. Bagi generasi muda, membangun personal branding dapat dimulai dari hal sederhana: berani menjadi diri sendiri, mengetahui potensi yang dimiliki, serta tidak terlalu takut terhadap penilaian orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....