Merajut Mimpi dari Asrama Sekolah Rakyat

  • 30 Agt 2026 19:08 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru – Jam tidur, waktu belajar, hingga kegiatan harian sudah tersusun rapi. Bagi Sri Wahyuni, siswi kelas XI Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 31 Pekanbaru, kehidupan di asrama bukan sekadar soal belajar, tetapi juga tentang belajar mandiri, disiplin dan bertanggung jawab.

Sejak bangun tidur hingga kembali memejamkan mata, aktivitas Sri dan teman-temannya telah memiliki jadwal yang harus dijalankan. Padatnya kegiatan membuatnya harus mampu mengatur waktu dan menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan sebagai seorang pelajar yang tinggal jauh dari orang tua.

“Di sekolah ini sehari-hari padat dan semuanya sudah terjadwal, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dari situ kami belajar manajemen waktu, disiplin dan bertanggung jawab atas apa yang diberikan,” tutur Sri.

Setahun menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat membuat Sri merasakan perubahan dalam dirinya. Jauh dari keluarga memaksanya menjadi lebih mandiri. Kerinduan kepada orang tua tetap ada, tetapi komunikasi setiap akhir pekan menjadi penguat ketika rasa rindu datang.

“Kalau kangen, setiap minggu ada jadwal menelepon. Biasanya kami saling tanya kabar dan saya cerita tentang pengalaman seru di sekolah kepada orang tua,” katanya.

Bagi Sri, Sekolah Rakyat juga menjadi tempat untuk mengembangkan potensi. Setiap pencapaian, sekecil apa pun, mendapat apresiasi. Dukungan dari guru dan teman-teman membuatnya semakin percaya diri untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

“Teman-teman selalu mendukung. Hal sekecil apa pun diapresiasi. Kalau tampil atau maju ke depan juga diapresiasi. Di sini bakat kita akan dikembangkan,” ujar Sri.

Di awal masuk sekolah, Sri sempat merasa bingung karena harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru dari berbagai daerah di Riau. Namun, perlahan ia mulai berbaur. Perbedaan bahasa dan latar belakang justru menjadi pengalaman baru yang memperkaya pertemanan.

Salah satu teman dekatnya, Medelfa Ananda, menjadi sosok yang kerap memberikan semangat ketika Sri merasa lelah menjalani padatnya kegiatan sekolah.

“Kalau dia sedang capek dan ingin menyerah, saya bilang jangan begitu. Kita dari awal sama-sama masuk ke sini, jadi harus tamat sama-sama,” kata Medelfa.

Menurut Medelfa, Sri juga merupakan teman yang menyenangkan untuk berbagi cerita. Selain memiliki kemampuan berbahasa Inggris, Sri senang membantu teman-temannya belajar dan tidak segan berbagi ilmu yang dimilikinya.

Di balik semangat Sri menjalani pendidikan, ada doa seorang ibu yang selalu menyertainya. Rusakiyah, ibunda Sri, mengaku harus belajar ikhlas melepas anak sulungnya tinggal di asrama demi masa depan yang lebih baik.

“Rasa rindu pasti ada. Sebagai orang tua, saya harus ikhlas supaya anak saya juga ikhlas menerima pelajaran di sini. Saya mencoba ikhlas demi masa depannya,” ungkap Rusakiyah.

Sehari-hari, Rusakiyah membantu ekonomi keluarga dengan berjualan makanan dan minuman di depan rumah orang. Sementara suaminya bekerja serabutan. Kondisi tersebut membuat pendidikan Sri di Sekolah Rakyat menjadi harapan besar bagi keluarga.

“Saya berharap anak saya dan anak-anak yang kurang mampu lainnya bisa terus bersekolah. Semoga melalui Sekolah Rakyat, cita-cita mereka tercapai dan bisa memutus rantai kemiskinan, sehingga anak-anak bisa memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang tuanya,” ujar Rusakiyah.

Kini, Sri terus menjalani hari-harinya di asrama dengan segala kesibukan, kerinduan dan tantangan. Dari jadwal yang teratur, persahabatan, hingga dukungan keluarga, semuanya menjadi bagian dari perjalanan Sri merajut mimpi.

Bagi Sri, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat menuntut ilmu. Di sana, ia belajar bahwa untuk meraih masa depan, seseorang harus berani mandiri, bertahan dalam proses, dan terus melangkah meski sesekali rasa rindu kepada rumah datang menyapa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....