Penipahan dalam Ingatan Bupati: Jejak Masa Lalu yang Menjadi Harapan Masa Depan

  • 12 Jun 2026 11:31 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pagi itu, hamparan laut di kuala Sungai Rokan, Bagansiapiapi tampak tenang. Permukaannya yang nyaris tanpa riak memantulkan cahaya matahari yang perlahan meninggi di ufuk timur. Sebuah speed penumpang melaju membelah perairan menuju Penipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas. Di atasnya, rombongan Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir membawa misi pelayanan sekaligus harapan; menyalurkan bantuan kepada masyarakat dan meninjau langsung perkembangan pembangunan di salah satu kawasan terluar yang selama puluhan tahun menjadi denyut kehidupan masyarakat pesisir.

Di antara rombongan tersebut, hadir Bupati Rokan Hilir H Bistamam yang tampak menikmati perjalanan laut itu dengan penuh refleksi. Bagi sebagian orang, Penipahan mungkin hanya sebuah daerah pesisir yang terletak jauh dari pusat pemerintahan. Namun bagi dirinya, kawasan ini menyimpan potongan sejarah yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.

Saat meninjau pembangunan jalan yang tengah berlangsung di Penipahan, ingatannya seakan kembali melintasi lorong waktu menuju akhir dekade 1970-an. Di hadapan masyarakat dan sejumlah pejabat yang mendampinginya, ia bercerita tentang masa mudanya sebagai seorang pedagang yang mengarungi perairan pesisir Rokan Hilir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat nelayan.

"Tahun 1978 saya sudah seperti ini. Saya dari pedagang, pedagang sembako dulu, termasuk juga kebutuhan keranjang dan tiang bubu. Setiap dua minggu sekali kami datang ke Pulau Halang, Sinaboi, Bagansiapiapi, termasuk Penipahan," kenang Bupati

Cerita itu bukan sekadar nostalgia. Di balik kisah perdagangan sederhana tersebut, tersimpan gambaran tentang bagaimana wilayah pesisir Rokan Hilir telah menjadi ruang ekonomi yang hidup sejak puluhan tahun lalu. Jalur laut merupakan urat nadi distribusi barang, sementara para pedagang menjadi penghubung antara kebutuhan masyarakat dan pusat-pusat perdagangan.

Bupati mengenang bagaimana pada era 1970 hingga 1980-an dirinya rutin mengangkut berbagai kebutuhan pokok serta perlengkapan nelayan. Saat itu, sebagian besar aktivitas ekonomi masyarakat bergantung pada laut. Keranjang rotan, tiang bubu, hingga sembako menjadi komoditas yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan masyarakat pesisir.

Dalam perjalanan usahanya, ia juga menjalin hubungan yang erat dengan sejumlah pengusaha Tionghoa yang berkontribusi terhadap geliat ekonomi Penipahan pada masa itu. Nama-nama yang dahulu begitu akrab kini kembali muncul dalam ingatannya.

"Saya banyak kenal dengan pengusaha Tionghoa di Penipahan ini, seperti Pak Chandra Halim dan ada juga pemilik Bangliao (Gudang Ikan). Kami biasa mengantar rotan keranjang dengan muatan sampai 400 sampai 500 kilogram," tuturnya.

Namun waktu terus bergerak. Banyak wajah yang dahulu menjadi bagian dari dinamika perdagangan pesisir kini tak lagi ditemui. Saat berdialog dengan masyarakat, Bupati sempat menanyakan kabar para sahabat lamanya tersebut. Sebagian telah berpindah tempat, sementara sebagian lainnya telah berpulang.

"Itulah yang saya tanyakan tadi, di mana mereka sekarang. Ada yang sudah meninggal," ujarnya dengan nada yang menyiratkan kerinduan terhadap masa lalu.

Kunjungan itu pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda pemerintahan semata. Di tengah penyaluran bantuan dan peninjauan pembangunan infrastruktur, terselip sebuah perjalanan emosional yang mempertemukan masa lalu dan masa depan. Bagi Bupati, Penipahan bukan sekadar wilayah administratif yang harus dibangun, melainkan ruang historis yang pernah menjadi saksi perjuangan hidupnya.

Karena itu, harapan yang ia titipkan kepada Penipahan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata. Jalan yang dibangun, fasilitas yang diperbaiki, maupun program yang dijalankan, menurutnya harus berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia. Infrastruktur dapat membuka akses, tetapi kualitas manusia akan menentukan arah kemajuan yang sesungguhnya.

Di tengah tantangan geografis yang dihadapi kawasan pesisir, ia meyakini Penipahan memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Letaknya yang strategis, tradisi maritim yang kuat, serta semangat masyarakat yang telah teruji oleh waktu menjadi modal sosial yang berharga untuk menyongsong masa depan.

Ketika speed yang membawanya perlahan bersiap meninggalkan Penipahan, laut masih tampak tenang seperti saat kedatangannya. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan harapan besar agar daerah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang pedagang muda pada puluhan tahun silam, kelak tumbuh menjadi kawasan pesisir yang maju, berdaya saing, dan mampu melahirkan generasi yang lebih sejahtera.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....