Downgrade Lifestyle, Pilih Hemat tanpa Harus Kehilangan Gengsi
- 07 Okt 2026 09:32 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Gaya hidup mahal tak lagi selalu dianggap sebagai simbol keberhasilan. Di tengah tuntutan biaya hidup dan kebutuhan yang terus berjalan, sebagian masyarakat mulai memilih menurunkan standar konsumsi, memilah kebutuhan, dan mengatur pengeluaran dengan lebih hati-hati.
Fenomena ini belakangan dikenal dengan istilah downgrade lifestyle. Sederhananya, seseorang dengan sadar memilih menjalani gaya hidup yang lebih sederhana dibanding sebelumnya, bukan semata karena tidak mampu, tetapi karena ingin pengeluaran lebih terkendali dan keuangan lebih sehat.
Misalnya, kebiasaan makan di restoran beberapa kali dalam sepekan mulai dikurangi. Membawa bekal dari rumah menjadi pilihan. Berlangganan berbagai layanan digital dievaluasi kembali. Barang bermerek tidak lagi menjadi prioritas jika ada produk lain dengan fungsi serupa dan harga lebih terjangkau.
Pilihan menggunakan transportasi umum, memasak sendiri, berburu promo, hingga menunda pembelian barang yang belum mendesak juga menjadi bagian dari perubahan pola konsumsi tersebut.
Istilah downgrade lifestyle memang relatif baru populer di ruang digital. Namun, konsep di baliknya memiliki kemiripan dengan frugal living, yakni menggunakan uang secara sadar dan sesuai prioritas.
Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau, M. Irfan Rosyadi, sebelumnya menjelaskan frugal living sebagai gaya hidup hemat dengan mengalokasikan dana sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.
Menurunkan gaya hidup sering kali masih dianggap sebagai tanda seseorang mengalami kemunduran ekonomi. Padahal, tidak selalu demikian.
Downgrade lifestyle dapat menjadi keputusan finansial yang disengaja. Seseorang yang sebelumnya terbiasa membeli kopi di kafe setiap hari, misalnya, bisa memilih membuat kopi sendiri di rumah karena ingin mengalokasikan uang untuk tabungan, investasi atau kebutuhan keluarga.
Begitu pula ketika seseorang memilih kendaraan yang lebih ekonomis atau menunda membeli gawai baru meski perangkat lama masih berfungsi dengan baik. Dengan kata lain, yang diturunkan bukan kualitas hidup, melainkan pengeluaran yang dianggap tidak lagi sebanding dengan manfaatnya.
Kajian ilmiah terbaru mengenai pengurangan konsumsi juga menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi tidak selalu berdampak buruk terhadap kesejahteraan. Sejumlah penelitian justru menemukan hubungan positif atau tidak signifikan dengan kesejahteraan, terutama ketika keputusan konsumsi dilakukan sesuai nilai dan kebutuhan seseorang.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Mohammad Nur Rianto Al Arif mencatat adanya perubahan perilaku konsumen. Masyarakat kini lebih banyak membandingkan harga, mencari diskon, membawa bekal, mengurangi langganan hiburan digital, hingga menunda pembelian barang yang diinginkan. Menurutnya, perubahan tersebut mencerminkan tekanan yang dirasakan kelompok kelas menengah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 mencatat indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sementara inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Angka itu meningkat dibandingkan hasil survei 2025.
OJK juga terus mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta tidak mudah terpengaruh tren maupun gaya hidup. Kebiasaan menabung dan menggunakan produk keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan disebut sebagai bagian dari perilaku finansial yang positif.
Salah satu tantangan terbesar dalam menerapkan downgrade lifestyle justru datang dari lingkungan sosial dan media sosial.
Ketika seseorang melihat teman berlibur, membeli barang baru atau makan di tempat yang sedang viral, muncul dorongan untuk melakukan hal yang sama. Jika tidak dikendalikan, keinginan untuk mengikuti tren bisa membuat pengeluaran semakin besar.
Karena itu, downgrade lifestyle bukan sekadar soal membeli barang yang lebih murah. Lebih jauh, ini menyangkut kemampuan menentukan standar hidup berdasarkan kondisi keuangan sendiri.
Kajian sistematis yang diterbitkan Business and Accounting Education Journal pada 2026 juga menemukan bahwa literasi keuangan membantu seseorang membuat keputusan konsumsi yang lebih rasional dan sesuai prioritas. Sementara itu, frugal living berperan menekan perilaku konsumtif dan meningkatkan efisiensi pengeluaran.
Menerapkan downgrade lifestyle tidak harus dilakukan secara ekstrem. Langkah awal bisa dimulai dengan mencatat pengeluaran bulanan, memilah kebutuhan dan keinginan, mengurangi pembelian impulsif, mengevaluasi langganan yang jarang digunakan, serta mencari alternatif yang lebih ekonomis.
Yang tidak kalah penting, penghematan sebaiknya memiliki tujuan. Uang yang berhasil dihemat bisa dialihkan untuk dana darurat, tabungan, pendidikan, kesehatan atau kebutuhan masa depan.
Sebab, hidup sederhana bukan berarti kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup. Justru dengan pengeluaran yang lebih terarah, seseorang memiliki ruang lebih besar untuk menentukan mana yang benar-benar penting.
Pada akhirnya, downgrade lifestyle bukan tentang siapa yang mampu membeli paling mahal. Ini tentang keberanian mengatakan bahwa tidak semua yang sedang tren harus dimiliki dan tidak semua standar orang lain harus diikuti.
Hidup tetap bisa nyaman, meski tidak selalu mewah. Karena yang paling penting bukan seberapa tinggi gaya hidup dipertahankan, tetapi seberapa sehat kehidupan dijalankan sesuai kemampuan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....