Fenomena Doom Spending, Perilaku Konsumtif di tengah Krisis Ekonomi
- 19 Mei 2026 16:34 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, lonjakan inflasi, dan menurunnya nilai tukar mata uang, muncul sebuah tren perilaku konsumen di kalangan generasi muda (Milenial dan Gen Z), yaitu doom spending. Istilah doom spending berarti perilaku impulsif dan kompulsif dalam membeli barang-barang bermerek, pakaian mewah, atau pengalaman estetik demi menghibur diri dari stres dan kecemasan.
Fenomena ini sekilas terlihat tidak logis yang mana harusnya menghemat di masa sulit, malahan menghabiskan uang untuk keinginan non-primer. Psychology Today menyatakan bahwa perilaku ini merupakan mekanisme pertahanan psikologis (coping mechanism) yang dipicu oleh perasaan pesimis terhadap masa depan finansial yang tampak suram.
Akar penyebab terjadinya doom spending ini sangat berkaitan dengan hilangnya harapan anak muda untuk mencapai target finansial jangka panjang, seperti membeli rumah atau mempersiapkan dana pensiun yang ideal. Berdasarkan analisis dari CNBC International, kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan pertumbuhan upah membuat banyak generasi muda merasa bahwa impian memiliki rumah sendiri sudah sangat di luar jangkauan. Tujuan finansial jangka panjang tersebut dirasa mustahil untuk dicapai, otak secara tidak sadar berakhir mengalihkan fokus pada kepuasan instan jangka pendek.
Peran algoritma media sosial juga menjadi akar penyebab doom spending ini melalui paparan konten. Riset yang dirilis Forbes menunjukkan bahwa platform seperti TikTok dan Instagram secara agresif menampilkan gaya hidup mewah dan ulasan barang-barang tren yang memicu sindrom FOMO (Fear of Missing Out). Tekanan sosial digital ini memicu perasaan bahwa semua orang hidup berkecukupan, sehingga memotivasi penontonnya untuk ikut berbelanja demi mempertahankan status sosial yang semu. Kemudahan metode pembayaran modern seperti paylater dan kartu kredit digital semakin melancarkan perilaku ini, membiarkan anak muda bertransaksi melampaui batas kemampuan dompet mereka hanya dalam sekali klik.
Meskipun berbelanja dapat meningkatkan hormon dopamin yang menciptakan rasa bahagia dan kendali sesaat, dampak jangka panjang dari doom spending sangat berbahaya bagi kesehatan finansial. Menurut Sikapi Uangmu OJK, kebiasaan ini dapat dengan cepat menguras tabungan inti, menghambat pembentukan dana darurat, dan menjebak seseorang dalam lingkaran setan utang konsumtif.
Kebahagiaan semu dari pembelian barang baru hanya sementara, saat rasa itu telah memudar akan memunculkan rasa cemas terhadap kondisi keuangan. Kecemasan ini seringkali akan memicu kembali siklus belanja impulsif berikutnya sebagai pelarian.
Untuk keluar dari jebakan doom spending, sangat perlu mencoba mengalihkan strategi meredakan stres ke arah yang lebih produktif dan menerapkan prinsip mindful spending (belanja dengan kesadaran penuh). Psychology Today menyarankan cara efektif dengan menerapkan aturan jeda 24 jam sebelum memutuskan membeli barang non-primer guna memberi ruang bagi otak berpikir rasional.
Selain itu, mengubah fokus investasi ke arah peningkatan kapasitas diri (up-skilling) atau mencari kebahagiaan dari aktivitas minim biaya (seperti olahraga atau menekuni hobi kreatif) dapat menjadi solusi jangka panjang. Dengan menyadari alasan emosional di setiap pembelian, generasi muda dapat memegang kendali penuh atas masa depan finansial, bahkan di tengah kondisi ekonomi yang paling menantang sekalipun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....