Harga Referensi Kopi dan Kakao Dunia Kembali Stabil
- 12 Feb 2026 14:47 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru – Periode kelam lonjakan biaya bahan baku perkebunan tampaknya sudah berlalu. Memasuki kuartal pertama 2026, grafik harga untuk dua komoditas vital, kopi dan kakao, kompak bergerak turun di pasar internasional. Koreksi tajam ini terjadi seiring membanjirnya stok global yang sukses meredakan kekhawatiran defisit jangka panjang.
Pasar kini merespons positif data terbaru yang menunjukkan pemulihan signifikan dari sisi suplai, mengakhiri fase volatilitas tinggi yang sempat mencekik pelaku industri pada dua tahun sebelumnya.
Sentimen utama yang menyeret turun harga kopi bersumber dari laporan panen yang melimpah ruah. Di Brasil, lembaga statistik pertanian setempat, Conab, merilis data Februari 2026 yang cukup mengejutkan pasar: estimasi panen nasional melonjak drastis hingga 17,2% secara tahunan (year-on-year) menembus angka 66,2 juta karung.
Dilansir dari The Economist, varian Arabika diprediksi melesat tajam lebih dari 23%, sedangkan jenis Robusta tumbuh moderat di kisaran 6,3%. Di belahan dunia lain, Vietnam sebagai lumbung Robusta terbesar juga melaporkan kenaikan output sebesar 6%—rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi agroklimat yang sangat kondusif saat fase pembungaan tanaman menjadi kunci keberhasilan ini, membanjiri pasar dengan pasokan baru yang menekan harga kontrak berjangka.
Di sektor kakao, kecemasan industri pengolahan cokelat perlahan sirna. Cuaca yang jauh lebih bersahabat di kawasan Afrika Barat—jantung produksi kakao dunia—telah memulihkan volume panen secara nyata. Data kedatangan biji kakao ke pintu-pintu ekspor utama di Pantai Gading dan Ghana pada awal tahun ini menunjukkan tren positif.
Peningkatan volume ini langsung direspons pasar dengan penurunan harga referensi sekitar 5% sejak awal tahun, sekaligus menjauhkan harga dari level "irasional" yang sempat terjadi akibat gagal panen dan penyakit tanaman di tahun lalu.
Koreksi harga ini memberikan ruang napas yang sangat dibutuhkan bagi sektor manufaktur food and beverage (F&B). Setelah sempat tertekan oleh tingginya ongkos produksi, pelaku usaha kini mulai melihat titik keseimbangan baru (equilibrium). Pasar diprediksi akan bergerak lebih stabil, meninggalkan harga spekulatif menuju harga fundamental yang didukung oleh ketersediaan barang yang riil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....