Tradisi Keramba Apung Masyarakat Desa Buluh Cina Kampar
- 15 Jan 2026 08:52 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tradisi keramba apung telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Buluh Cina, Kabupaten Kampar, Riau. Berada di sepanjang aliran Sungai Kampar, desa ini memanfaatkan potensi perairan sungai sebagai sumber penghidupan utama.
Keramba apung tidak hanya berfungsi sebagai sarana budi daya ikan, tetapi juga mencerminkan hubungan erat antara masyarakat dengan alam sekitarnya. Sejak puluhan tahun lalu, masyarakat Buluh Cina telah mengembangkan sistem keramba apung secara turun-temurun. Pengetahuan tentang pemilihan lokasi, jenis ikan, hingga perawatan keramba diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi ini tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat dalam membaca karakter arus sungai, perubahan musim, serta kualitas air Sungai Kampar. Jenis ikan yang dibudidayakan dalam keramba apung umumnya adalah ikan patin, nila, dan baung, yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta cocok dengan kondisi perairan sungai.
Levis salah seorang warga dan pengamatan lapangan masyarakat Desa Buluh Cina, Kampar mengatakan proses pemeliharaan dilakukan secara sederhana namun penuh ketelitian, mulai dari pemberian pakan, pengontrolan kesehatan ikan, hingga menjaga kebersihan keramba agar tetap ramah lingkungan.Selain sebagai mata pencaharian, keramba apung juga memiliki nilai sosial yang kuat. Aktivitas memberi pakan, memperbaiki keramba, hingga panen ikan sering dilakukan secara gotong royong.
| Baca juga: Harga Emas Mulai Turun di Tahun Baru Imlek |
Kebersamaan ini memperkuat ikatan sosial antarwarga serta menumbuhkan rasa saling peduli dalam menjaga keberlangsungan usaha bersama. Tradisi keramba apung di Buluh Cina juga menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan kualitas air, fluktuasi harga pakan, dan dampak aktivitas manusia di hulu sungai. Meski demikian, masyarakat terus beradaptasi dengan menerapkan pola pengelolaan yang lebih bijak, termasuk membatasi jumlah keramba dan memperhatikan daya dukung sungai.
Dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan keramba apung turut menarik perhatian sebagai bagian dari potensi wisata edukasi desa. Pengunjung dapat melihat langsung proses budi daya ikan tradisional, belajar tentang ekosistem sungai, serta memahami peran keramba apung dalam kehidupan masyarakat Buluh Cina. Hal ini membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....