Gurih yang Disalahkan, Fakta dan Mitos MSG

  • 10 Feb 2026 19:54 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Anggapan bahwa konsumsi micin atau Monosodium Glutamat (MSG) dapat membuat seseorang menjadi bodoh telah lama beredar di masyarakat. Mitos ini bahkan melahirkan istilah “generasi micin”, sebuah label yang kerap disematkan pada anak muda yang dianggap malas berpikir dan kurang cerdas. 

Namun, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak didukung oleh bukti medis maupun kajian ilmiah yang kuat.

Kepercayaan tentang bahaya MSG terhadap kecerdasan umumnya berkembang dari informasi yang tidak utuh dan terus diwariskan secara turun-temurun. Padahal, sejak puluhan tahun lalu, MSG telah menjadi objek penelitian di berbagai negara untuk menilai dampaknya terhadap kesehatan manusia, termasuk fungsi otak.

Laman MSGDISH.COM memaparkan salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam Annals of Nutrition and Metabolism menyebutkan bahwa konsumsi MSG dalam jumlah normal tidak menyebabkan peningkatan kadar glutamat yang signifikan dalam darah, apalagi di otak. Tubuh manusia memiliki sistem perlindungan alami berupa blood-brain barrier, yaitu penghalang yang mencegah zat-zat tertentu dalam aliran darah masuk ke jaringan otak. Mekanisme ini memastikan glutamat dari makanan tidak menumpuk dan mengganggu fungsi kognitif.

Lembaga pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA), juga mengategorikan MSG sebagai bahan pangan yang “Generally Recognized as Safe (GRAS)”. Artinya, MSG aman dikonsumsi selama digunakan dalam batas wajar. Penetapan ini didasarkan pada evaluasi ilmiah yang melibatkan banyak studi jangka panjang.

Selain itu, glutamat sejatinya bukan zat asing bagi tubuh manusia. Senyawa ini secara alami diproduksi oleh tubuh dan juga terdapat dalam berbagai makanan sehari-hari seperti tomat, jamur, keju parmesan, hingga Air Susu Ibu (ASI). Fakta ini memperkuat bahwa glutamat merupakan bagian normal dari metabolisme manusia, bukan racun yang merusak otak.

Meski demikian, konsumsi MSG tetap perlu dikontrol. Seperti gula, garam, dan lemak, penggunaan berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan secara umum, meskipun bukan secara spesifik menyebabkan kebodohan atau kerusakan otak.

Dengan demikian, anggapan bahwa micin membuat bodoh dapat dikategorikan sebagai mitos yang tidak berdasar. MSG bukan penyebab menurunnya kecerdasan generasi muda. Yang jauh lebih penting untuk diperhatikan adalah pola makan seimbang, gaya hidup sehat, serta literasi gizi yang baik agar masyarakat tidak lagi terjebak pada stigma yang keliru.

Rekomendasi Berita