Mitos vs Fakta: Mengapa Madu Tidak "Abadi"
- 10 Feb 2026 10:01 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kalau ada pertanyaan “Apakah madu bisa kadaluwarsa?” Jawaban singkatnya tidak, dalam kondisi normal. Berdasarkan situs spice.alibaba.com, secara kimiawi madu memiliki pertahanan luar biasa melalui kadar gula tinggi (80%) dan tingkat keasaman alami (pH 3.2–4.5) yang menghambat pertumbuhan bakteri dan jemur. Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), karena stabilitas kimianya madu murni tidak bisa kadaluwarsa.
Menurut Sarah Johnson (penulis dan sejarawan kuliner), hanya ada satu yang membuat madu rusak. Kontaminasi air jawabannya. Air memicu fermentasi menghasilkan madu bergelembung dan berbau asam. Jika madu mengeluarkan gas dan bau asam menjadi tanda ragi aktif. Buang saja jika menunjukan ciri-ciri seperti ini.
Fakta lain yang bisa disalahpahami adalah pengkristalan madu. Sama seperti gula pasir, madu juga bisa mengkristal karena pengendapan glukosa. Hal ini malahan menunjukan keaslian madu. Apabila kristalisasi ini terjadi, panaskan saja dengan air hangat (≤40°C) agar cair kembali.
Berdasarkan pengalaman Sarah Johnson yang pernah menyimpan raturan toples madu, bisa dilakukan langkah berikut:
1. Penggunaan wadah kedap udara sangat dianjurkan. Gunakan saja toples kaca dengan tutup rapat. Jangan menyimpan toples di dekat sumber uap seperti kompor
2. Simpan di tempat gelap tanpa terkena cahaya langsung. Simpan saja di lemari yang gelap. Cahaya UV mengubah rasa madu sedikit demi sedikit.
3. Gunakan sendok kering. Sendok lembab bahkan basah menambah air di madu. Hal ini menyebabkan kerusakan stabilitas kimia madu sehingga madu rusak.
Sekarang, sudah tau kan kalau madu abadi adalah fakta tetapi ada faktor manusia yang dapat merusaknya. Kristalisasi tanda madu kadaluwarsa adalah mitos. Faktanya, itu bukti kemurnian madu.