Congklak, Permainan Tradisional Inhil yang Tetap Bertahan

  • 15 Sep 2026 11:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, memiliki beragam permainan rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, salah satunya congkak. Permainan ini dikenal sebagai permainan anak-anak yang menggunakan papan berlubang dan biji congkak. Dalam data Pemajuan Kebudayaan Kabupaten Indragiri Hilir, congkak tercatat menyebar di seluruh kecamatan dengan kondisi sekitar 70 persen masih sering dilaksanakan, 15 persen kurang dilaksanakan dan 15 persen tidak dilaksanakan. Data tersebut menunjukkan congkak masih memiliki tempat di tengah masyarakat Inhil, meski sebagian wilayah mulai meninggalkan permainan tradisional tersebut.

Dikutip dari PPID Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, Dari sisi sejarah, asal-usul congkak belum dapat dipastikan secara tunggal. Sejumlah sumber sejarah menyebut permainan sejenis congkak telah berkembang lama di kawasan Melayu dan termasuk keluarga permainan papan Mancala. Ada pendapat yang mengaitkan perkembangannya dengan jalur perdagangan dari Timur Tengah menuju Asia Tenggara, sementara sumber lain menyebut permainan ini berkembang di kawasan Kesultanan Melayu Melaka. Dalam sejarah masyarakat Melayu, congkak kemudian dikenal sebagai permainan untuk mengisi waktu senggang dan berkembang dari lingkungan bangsawan hingga menjadi permainan masyarakat luas. Karena itu, untuk konteks Indragiri Hilir, congkak lebih tepat disebut sebagai bagian dari warisan permainan masyarakat Melayu yang kemudian hidup dan berkembang di berbagai daerah, termasuk seluruh kecamatan di Inhil.

Congkak umumnya dimainkan oleh dua orang yang duduk berhadapan. Peralatan utamanya berupa papan congkak yang memiliki 16 lubang, terdiri atas 14 lubang kecil dan dua lubang besar sebagai rumah atau tempat mengumpulkan buah congkak. Buah permainan dapat berupa biji-bijian, cangkang kerang, batu kecil, kelereng atau bahan lain yang ukurannya sesuai. Pada awal permainan, lubang-lubang kecil diisi dengan buah congkak, kemudian pemain mengambil buah dari salah satu lubang dan membagikannya satu per satu ke lubang berikutnya. Permainan berlangsung secara bergantian dengan strategi tertentu hingga buah terkumpul di rumah pemain. Congkak biasanya dimainkan pada waktu senggang, baik di rumah maupun di lingkungan tempat anak-anak berkumpul. Kajian mengenai permainan rakyat Melayu Riau juga mencatat congkak sebagai permainan masyarakat Melayu Riau dengan dua pemain dan papan 16 lubang.

Pelestarian congkak membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, sekolah, keluarga dan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir telah memasukkan congkak dalam pendataan objek pemajuan kebudayaan, sehingga permainan tersebut tidak hanya dipandang sebagai hiburan anak-anak, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya daerah. Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui festival permainan rakyat, perlombaan antarsekolah, kegiatan kebudayaan di desa dan kecamatan, serta pengenalan permainan tradisional dalam kegiatan pendidikan. Langkah tersebut mulai terlihat di lingkungan sekolah, salah satunya ketika siswa SDN 035 Tembilahan mengikuti kegiatan permainan tradisional yang antara lain menghadirkan congklak. Kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal kembali permainan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Bagi generasi muda, congkak memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar permainan mengisi waktu luang. Permainan ini melatih kemampuan berhitung, konsentrasi, ketelitian, pengambilan keputusan dan strategi, sekaligus menghadirkan interaksi langsung antara pemain. Tantangannya saat ini adalah anak-anak semakin dekat dengan permainan digital sehingga permainan tradisional berpotensi semakin jarang dimainkan. Karena itu, keberlanjutan congkak di Kabupaten Indragiri Hilir membutuhkan kreativitas dalam memperkenalkannya kepada generasi muda, tanpa menghilangkan aturan dan nilai tradisionalnya. Dengan dukungan pemerintah daerah, sekolah, orang tua dan komunitas budaya, congkak diharapkan tidak hanya bertahan dalam catatan Pemajuan Kebudayaan, tetapi tetap dimainkan oleh anak-anak Inhil dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....