Gasing Inhil, Warisan Melayu yang Terus Berputar di Era Digital
- 15 Sep 2026 11:50 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Gasing merupakan salah satu permainan rakyat tradisional yang masih hidup di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Permainan ini telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat Melayu dan dimainkan secara turun-temurun oleh anak-anak maupun orang dewasa. Dokumen pemerintah daerah mencatat gasing sebagai permainan rakyat yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir. Di Tembilahan, khususnya Seberang Tembilahan, permainan ini masih cukup kuat dan kerap dimainkan pada hari libur maupun dalam kegiatan perayaan tertentu.
Dikutip dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, Media Center Inhil, Gasing tradisional Inhil umumnya dibuat dari kayu keras, antara lain kayu bakau dan kempas. Bentuknya dibuat menyerupai buah atau bulat dengan bagian badan yang cukup lebar, bagian atas atau kepala, serta ujung bawah yang runcing sebagai titik tumpu ketika berputar. Pada bagian badan terdapat lekukan untuk melilitkan tali. Proses pembuatan secara tradisional dilakukan dengan membentuk kayu menggunakan mesin bubut hingga mendapatkan bentuk yang seimbang. Seorang pengrajin di Seberang Tembilahan pernah menjelaskan bahwa pembuatan satu gasing membutuhkan waktu sekitar satu jam.
Cara memainkan gasing membutuhkan keterampilan, ketepatan dan keberanian. Tali dililitkan pada bagian gasing, kemudian gasing dilemparkan ke permukaan tanah atau arena sambil menarik tali dengan kuat agar gasing berputar. Permainannya dapat dilakukan secara perorangan maupun beregu, antara lain dengan mengadu lama putaran atau pangkah, yakni mempertemukan gasing yang satu dengan gasing lainnya. Di Seberang Tembilahan, permainan gasing juga dikenal dimainkan secara berkelompok dan sering hadir pada momentum tertentu, seperti peringatan Hari Kemerdekaan. Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Inhil bahkan menggelar pertandingan gasing yang diikuti perwakilan dari 20 kecamatan.
Keberadaan gasing kini menghadapi tantangan dari perkembangan teknologi dan permainan digital. Anak-anak semakin banyak menghabiskan waktu dengan telepon pintar dan permainan daring, sehingga permainan tradisional berisiko semakin jarang dimainkan. Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan gasing. Pengenalan gasing melalui sekolah, sanggar budaya, komunitas, latihan bersama dan perlombaan dapat membuat anak-anak tidak hanya mengenal gasing sebagai benda lama, tetapi juga merasakan langsung keseruan bermain, belajar sportivitas, menjaga kekompakan dan berinteraksi dengan teman sebaya. Pemerintah Kabupaten Inhil sendiri pada 2026 kembali menggelar Lomba Gasing dalam rangka Milad ke-61 Kabupaten Indragiri Hilir, yang diikuti 120 peserta, sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali permainan tradisional di tengah era digital.
Pelestarian gasing membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, tokoh adat, pengrajin dan generasi muda. Pemerintah dapat memperkuatnya dengan menjadikan lomba gasing sebagai agenda tahunan, menyediakan ruang atau arena bermain, mendukung pengrajin lokal, mendokumentasikan teknik pembuatan dan permainan, serta memasukkannya dalam kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Pemerintah Kabupaten Inhil juga telah menunjukkan dukungan melalui penyelenggaraan perlombaan pada momentum Milad Kabupaten dan kegiatan lainnya. Dengan langkah tersebut, gasing diharapkan tidak sekadar menjadi permainan masa lalu, tetapi tetap berputar di tangan generasi muda sebagai simbol kebersamaan, keberanian, sportivitas dan kebanggaan terhadap warisan budaya Indragiri Hilir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....