Adu Buah Para, Permainan Tradisional Buah Karet dari Kampar Provinsi Riau

  • 11 Sep 2026 16:12 WIB
  •  Pekanbaru

RRI. CO.ID, Pekanbaru – Kabupaten Kampar, Riau, memiliki beragam permainan tradisional yang tumbuh dari kehidupan masyarakat dan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Salah satunya adalah Adu Buah Para, permainan ketangkasan menggunakan buah atau biji karet tua yang dikenal masyarakat sebagai buah para. Permainan ini dilakukan dengan mengadu kekuatan dua buah karet melalui pukulan secara bergantian. Selain menjadi hiburan, permainan sederhana tersebut memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan hasil perkebunan sebagai sarana bermain.

Dikutip dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar- Komitmen Memajukan Wisata dan Pelestarian Budaya Lokal, Belum ditemukan catatan resmi pemerintah yang memastikan kapan Adu Buah Para pertama kali dimainkan atau siapa penciptanya. Karena itu, permainan ini lebih tepat disebut sebagai permainan rakyat yang berkembang secara turun-temurun di lingkungan masyarakat. Kehadiran permainan semacam ini tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Kampar yang memiliki kedekatan dengan lingkungan dan aktivitas perkebunan. Buah karet yang telah tua dan keras dapat dimanfaatkan sebagai media permainan, sehingga anak-anak tidak membutuhkan peralatan khusus untuk menciptakan hiburan bersama.

Cara bermain Adu Buah Para relatif sederhana. Dua pemain menyiapkan buah karet yang dianggap cukup keras, kemudian masing-masing buah dipertemukan dengan cara dipukul secara bergantian. Buah yang lebih kuat dan tidak pecah menjadi pemenang. Permainan ini membutuhkan ketelitian dalam memilih buah, kekuatan pukulan, serta kemampuan menentukan posisi saat mengadu. Pesertanya umumnya anak-anak dan remaja di lingkungan masyarakat, sementara orang-orang yang lebih tua dapat berperan mengenalkan aturan dan cerita permainan kepada generasi berikutnya. Karena permainan ini merupakan permainan rakyat yang diwariskan secara lisan, aturan maupun penyebutannya dapat berbeda antara satu lingkungan dengan lingkungan lainnya.

Di tengah perkembangan permainan digital, keberadaan Adu Buah Para menghadapi tantangan untuk tetap dikenal generasi muda. Pelestarian tidak harus dilakukan dengan mengembalikan permainan dalam bentuk yang sama seperti dahulu, tetapi dapat melalui dokumentasi, pengenalan permainan tradisional di sekolah, kegiatan komunitas, festival budaya dan ruang bermain anak. Pemerintah Kabupaten Kampar sendiri menyatakan bahwa pelestarian budaya lokal mencakup berbagai aspek, antara lain tradisi lisan, pengetahuan tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional. Hal ini disampaikan Pemkab Kampar dalam pertemuan bersama Yayasan Duta Pariwisata dan Kebudayaan Indonesia pada 23 Juni 2025.

Upaya tersebut dapat menjadi ruang bagi permainan seperti Adu Buah Para untuk kembali dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Kampar. Dukungan pemerintah daerah dapat diarahkan melalui pendataan permainan rakyat, dokumentasi sejarah lisan, pelibatan tokoh masyarakat dan budayawan, serta penyelenggaraan kegiatan budaya yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengenal permainan tradisional secara aman. Pemerintah Kabupaten Kampar juga terus mendorong sinergi dalam pemajuan wisata dan pelestarian budaya lokal, termasuk permainan rakyat dan olahraga tradisional. Dengan dokumentasi yang baik dan keterlibatan generasi muda, Adu Buah Para tidak hanya menjadi permainan masa lalu, tetapi juga dapat dikenalkan kembali sebagai bagian dari identitas budaya Kampar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....